Minggu, 27 Mei 2012

Aku Tak Sengaja

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 18:12 0 komentar
Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu tidak tahu aku sedang memandangmu.

Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.

Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.

Aku tidak sengaja mengaktifkan phenylethylamine dari sistem limbik otakku saat dekat kamu. Dan itu memicu euphoria. Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku. Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja kamu yang mendarat di perutku. Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu. Rasanya dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, seolah kebersamaan aku dan kamu begitu menakutkan bagi waktu.

Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan. Ah, aku tidak sengaja terus membayangkan wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku. Terus menerus, hingga pagi menjelang, handphone-ku adalah yang pertama ku-check. Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya. Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.

Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari. Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.

Aku tidak sengaja jatuh cinta kepadamu. Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik. Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit, atau alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?

Aku tidak sengaja menjadikanmu “karena” dalam setiap “mengapa” yang bermuara di benakku.

Maaf, aku tidak sengaja…

Kamu tidak harus sengaja untuk jatuh cinta.

Sabtu, 26 Mei 2012

Filosofi Bambu

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 15:24 0 komentar
Suatu hari dalam kondisi yang putus asa seseorang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bahkan berhenti dari hubungannya dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasnya. Maka dia pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. 
“Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti” katanya.

Tuhan memberi jawaban yang mengejutkannya. “Lihat ke sekelilingmu”, kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabnya.

Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, dan pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”

“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”

“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ”

“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, yang kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”

“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.

Tuhan berkata, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”
“Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadanya. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi.”

“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyanya. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” dia bertanya.

“Ya.” jawabNya “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu dia pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadapnya dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.

Ps: Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman, kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu, ingatlah No one is perfect, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-
tingginya.


(anonim)

Minggu, 13 Mei 2012

Cerbung : Mandy dan Landy (7)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 17:31 0 komentar
     " Dia udah sadar ! " samar-samar Mandy mendengar suara yang tak asing baginya. Perlahan-lahan ia pun membuka matanya, semua berwarna merah maroon, nuansa klasik yang sangat ia sukai.
     " Aku dimana ? " tanya Mandy sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut-denyut.
     " Kamu di rumah barumu, sayang. " ucap seorang wanita  paruh baya yang tampak welas asih.
     " Bunda mana ? kenapa ada kak Rifky ? rumah baru ? maksud Ibu ? " berondongan pertanyaan Mandy yang penasaran akan semua ini.
     " Kamu Ibu pilih untuk jadi anaknya Ibu. Ibu sudah lama menginginkan anak perempuan. " lirih sang Ibu.
Mandy yang punya perasaan begitu sensitif akhirnya tersentuh juga dengan melihat wajah sang Ibu namun ia tak dapat meredam rasa yang aneh di dadanya ketika ia harus menjadi saudara salah satu " penguasa " di sekolahnya sendiri.
     " Ma, Rifky keluar dulu ya. " ujar Rifky ketika melihat handphonenya berdering.
Dan semua pun seperti mimpi bagi Mandy !
     Keesokan harinya ketika memasuki gerbang sekolah, para siswa dan siswi seolah menunjukkan ekspresi yang sama ketika melihat langkah Rifky dan Mandy sejajar. Dengan perasaan yang begitu canggung, Mandy menundukkan wajahnya yang kini telah terbalut semua yang serba baru. Rambutnya yang kini biasanya diikat, kini diurai. Matanya yang dulu terbingkai kacamata, kini tidak ada. Matanya berwarna hitam pekat sekarang, ditutupi oleh softlens. Semua begitu terheran-heran melihat perubahan Mandy yang begitu drastis padahal ia adalah anak baru di sekolah itu.
     Namun saat mereka tengah asyiknya memperhatikan Mandy dan Rifky, Rifky merubah haluannya menuju lantai 2 sedangkan Mandy masih terus saja berjalan menuju ke kelasnya. " Mandy ? " tegur seseorang yang perlahan mendekat untuk memastikan. Mandy yang merasa dipanggil akhirnya mendongakkan kepala dan melihat bahwa Ghina tengah berdiri di hadapannya seolah tak percaya dengan perubahan drastis sahabatnya itu.
     " Kok bisa ? " alis Ghina berkerut pertanda ia meminta sebuah jawaban yang pasti dari mulut Mandy.
     " Jangan cerita disini, gimana kalo di kantin ? " perlahan gaya bahasa Mandy pun berubah.
     " Oke ! " Ghina menyetuji usulan sahabatnya itu lalu mereka pun pergi menuju kantin.
     Sesaatnya di kantin, mereka pun duduk dan memesan minuman favorit masing-masing. Beberapa menit mereka terdiam membisu seolah tak ada yang ingin membuka pembicaraan namun akhirnya Mandy mengambil inisiatif membuka pembicaraan itu terlebih dahulu. Semuanya Mandy ceritakan dengan sangat sempurna, tak ada satupun yang tertinggal hingga Ghina yang mendengarkan pun hanya bisa tertegun seolah ia tersambar petir yang sagat hebat di kepalanya pagi ini. Saat Mandy menyelesaikan ceritanya, tak lama kemudian Rifky menghampiri dengan mesranya hingga tiba-tiba praaanggg...
     " Bangsaaaatttt !!! " desis seseorang yang begitu emosi melihat kejadian itu.

Selasa, 01 Mei 2012

Malam

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 19:31 0 komentar
Sinar rembulan menerangi malamku
Menyiratkan indahnya malam
Sunyi pun menghinggapi seketika
Menusuk hingga ke kalbu

Rasa perih menggoyahkan hati
Melukiskan hitam diatas putih
Melambangkan ketidakadilan cinta

Akankah sang bintang kan datang
Menemani sang rembulan
Dalam gulitanya malam
Dan heningnya kehidupan

Lolongan anjing mewarnai malam
Mengatakan kesedihan mendalam
Pada jiwa yang sepi menghampiri
 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos