Senin, 20 Oktober 2014

Bintang dan Heri, Sang Pemecah Kesunyian

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 13:42 0 komentar
Suasana penuh gelak tawa memenuhi ruangan bernuansa putih dengan hiasan gorden merah. Di ballroom yang berisikan penonton sebanyak hampir 450 orang, komunitas Stand Up Comedy Palembang berhasil memecahkan kesunyian Kota Palembang akibat kabut asap yang hampir satu bulan ini menyelubungi kota dengan julukan kota pempek tersebut pada hari Minggu, 18 Oktober 2014 dengan sebuah acara berjudul Stand Up Nite 5 Palembang.
Acara Stand Up Nite merupakan sebuah acara tahunan yang biasanya diselenggarakan oleh Stand Up Comedy Indonesia di masing-masing kota di Indonesia. Stand Up Nite 5 Palembang ini sendiri adalah acara tahunan yang kelima setelah sebelumnya berhasil mengundang komika nasional ternama seperti Ernest Prakasa untuk tampil membawakan materi yang telah dipersiapkan. Namun dalam kegiatan tahunan yang kelima ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu berhasil mengundang dua komika nasional bernama Bintang Bete dan Heri Horeh.
Selama masa persiapan acara ini, sekitar dua puluh anggota komunitas Stand Up Comedy Palembang ikut berpartisipasi dalam menyukseskan Stand Up Nite 5 Palembang. Persiapan untuk kesuksesan acara ini pun dilakukan dengan semaksimal mungkin, mulai dari pembuatan proposal, pencarian venue dan sponsor, pencetakan tiket hingga promosi yang dilakukan melalui media sosial dan terjun langsung ke pusat keramaian di Kota Palembang seperti Kambang Iwak Family Park (KIF Park). 
"Untuk persiapan ini sendiri bisa dikatakan cukup melelahkan karena banyak aspek yang harus dipersiapkan semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan penonton yang datang. Namun, rasa lelah ini kemudian terbayarkan oleh gelak tawa puas penonton yang akhirnya menjadi rasa bangga tersendiri untuk panitia karena sukses menyelenggarakan acara ini," ucap Maulana Malik Ibrahim, salah satu panitia Stand Up Nite 5 Palembang.
Acara yang didukung oleh Palembang Movement dengan tagline #SUN5PLG dapat diacungi jempol karena acara ini berhasil mengusir kegalauan warga di Kota Palembang yang sedang terselubungi oleh kabut asap yang tak kunjung menipis. Setiap momen yang dihadirkan pun tak luput dari kelucuan para komika yang tampil di atas panggung. Terbukti dari gelak tawa mereka yang hadir dalam acara tersebut ketika acara Stand Up Nite 5 berlangsung. Selain itu, penampilan para komika lokal yang terpilih melalui seleksi ketat pun berhasil mengundang tawa penonton, dan ketika memasuki acara puncak dimana Bintang Bete dan Heri Horeh berada di atas panggung dan membawakan materi lucu mereka, gelak tawa penonton pun semakin menjadi hingga akhir acara. Tak luput pula, ketika akhir acara, banyak penonton yang meminta foto bareng dengan dua komika nasional tersebut sehingga menjadikan mereka sebagai sang pemecah kesunyian hampir satu bulan ini di Kota Palembang.
"Acara ini seru! Bisa melepaskan kepenatan akibat aktivitas harian yang biasa saya lakukan. Selain itu, acara ini juga membuktikan bahwa komunitas Stand Up Comedy Palembang merupakan komunitas yang dapat diperhitungkan apalagi untuk melangkahkan nasibnya ke nasional. Semoga saja acara seperti ini selalu ada sehingga masyarakat semakin mengenal tentang Stand Up Comedy," tutup Rafiniati, penonton acara Stand Up Nite 5 Palembang.

Artikel saya ini dimuat di webite Kompas Muda di Bintang dan Heri, Sang Pemecah Kesunyian 

Sabtu, 18 Oktober 2014

Sixty Minutes

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 07:59 0 komentar
Hi! Happy weekend guys!
Today, I wanna tell you a story. Yup, a short story. This is a story that makes me remembering a love story. First love story. Now, let's check this out!

At 22.30 p.m on Thursday, someone got conversation with me on BBM. But I replied it at 4.00 a.m. I was very shock when I saw that chat. Someone who makes me can't forget all memories coming to my life again. I know that he studies in a university as same as I do. But we don't have a communication yet after I knew that he has had a girlfriend named Ms. X😷. I didn't wanna bother him but he came to my life again. But yesterday, everything was gone. He wanted me to gather to go to our university. Yeah, I thaught that I went to there seems like the last moment when he went with me and joined in his friends. But it was wrong! I was alone! No his friend was in his car. But I still thaught that he forgot to invite his friends. Then we started our journey to Inderalaya where our campus buildings in. Yeah, for an hour I talked to him. Everything we discussed from our campus, our activities, etc. But something was wrong! Suddenly he started to discuss about our last love story. God, honestly I didn't wanna discuss about this. It made me hurt😞. He is my first love and I couldn't forget him! But how fools I am! I still talked to him about it! And that moment came to me! He grasped my hand strongly until we arrived on our campus. His hand is so warm. God, what should I do? I couldn't say anything for that moment! Please, make me strong, God! He is my past. But unfortunately, I can remember that feeling until right now. Yeah. Until right now. I can remember how warm his hand is. Yeah. Sixty minutes that made me feels that I was his girlfriend.

Minggu, 17 Agustus 2014

Kompas Muda Palembang

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 08:50 0 komentar
Happy Independence Day for my lovely country, Indonesia!
Halo, semangat membara di hari ini!
Apa kabarnya nih? Wah, Indonesia udah merayakan kemerdekaannya yang ke-69 ya ternyata!
Oh iya, mau cerita sedikit nih tentang Kompas Muda. Disimak ya!

Jadi, di tanggal 17 Agustus 2014 ini, aku punya banyak keseruan. Ya, keseruan bareng anak Kompas Muda Palembang. Jadi awalnya, kami--volunteer Kompas Muda--kumpul di kantor untuk siap beraksi turun ke jalanan ngebagiin bendera merah-putih yang udah kami buat. Ini sebenernya projek dari pusat, Jakarta, yaitu #KibarkanBenderamu .
Hari ini kami ngebagiin bendera di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Wah, lumayan seru ngebagiin benderanya apalagi kami sempet buat video, hihi. Videonya lucu tapi kesan yang didapet itu malu, haha. Soalnya waktu lagi buat video, tiba-tiba kami disorakin. Yaelah, norak banget sih yang nyorakin itu, belum pernah ketemu artis lokal apa:p
Oke, fokus! Nah sore-sorenya habis ngebagiin bendera di kawasan BKB, kami lanjut makan di Garden Palace, tempat makan di kawasan Kambang Iwak Family Park (KI). Pokoknya seru deh! Kami foto-foto, cerita bareng, dan...tiba-tiba suasana jadi formal. Oh, ada apa ini, Bung? Kok perasaan aku nggak enak ya?
Dan ternyata disitu kami rapat. Ada suatu dan lain hal, ketua lama kami harus meninggalkan jabatannya untuk pertukaran pelajar ke Hongaria. Well, itu nggak buat aku gimana-gimana sih. Tapi ketika dia nyebutin nama aku untuk jadi ketua baru, disitu aku sempat heran. Loh kok bisa? Siapa yang nyalonin diri aku toh? Oalah, ieu teh nteu beres. Tapi mau gimana lagi? Aku harus siap! Ya, walaupun sempet kaget juga sih cuma ini kan amanat kan ya? Jadi mesti dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ya, semoga aja Kompas Muda Palembang jadi lebih baik dan terdepan. Semoga aja aku bisa jadi ketua yang baik untuk jadi contoh. Iya, semoga.

Minggu, 20 Juli 2014

Aku Bisa Fotografi!

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 17:55 0 komentar
"Siapa bisa fotografi? Aku bisa fotografi!"
Begitulah yel-yel digemakan di ruangan yang dihiasi dengan foto-foto dari karya Aji Purwoko, Area Manager PT Sirkulasi Kompas Gramedia Sumbagsel sekaligus penyaji dalam workshop "Aku Bisa Fotografi" bersama Kompas MuDA Palembang kemarin (19/7).
Workshop yang diselenggarakan di salah satu ruangan di Kantor Kompas Gramedia regional Sumatera Selatan ini merupakan event kedua dari Volunteer Kompas Muda Batch V Palembang yang sebelumnya merupakan event charity. Kali ini Kompas MuDa Palembang muncul dalam acara dengan tema fotografi yang bertujuan memperkenalkan lebih dalam mengenai ilmu fotografi.
Event ini sendiri disambut dengan baik oleh MuDAers di Kota Palembang, terbukti dari jumlah peserta yang beragam dari 10 sekolah di Kota Palembang.
“Acara ini keren dan diluar ekspektasi karena peserta berasal dari sekolah yang beragam karena awalnya panitia hanya menargetkan lima sekolah saja,” ungkap Maulana Malik Ibrahim, Ketua Batch IV Kompas Muda Palembang.
Peserta tidak hanya berasal dari kalangan Sekolah Menengah Atas, tetapi juga berasal dari kalangan Sekolah Menengah Pertama, yaitu SMP Kusuma Bangsa Palembang. Meskipun ada peserta yang berasal dari kalangan Sekolah Menengah Pertama, namun tidak menyurutkan mental mereka untuk berinteraksi. Terlihat dari keberanian Dwi Putri, siswi SMP Kusuma Bangsa, yang berhasil menjawab dengan benar pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh MC mengenai Kompas Muda itu sendiri.
Suasana riuh tidak hanya diciptakan secara langsung melalui sesi tanya jawab peserta, melainkan melalui media sosial dengan mengirimkan mention ke @kompasmuda_plbg .
Seperti mention @Ratudinah,”Asik menarik mendidik banyak pengetahuan yang didapat di workshop fotografi @kompasmuda_plbg #PuasaAsyik !!!”
Es teh manis dan buah melon menjadi penutup kegiatan pada hari itu, dilanjutkan dengan pembagian sertifikat kepada peserta workshop fotografi. Kebersamaan tidak berhenti sampai di situ saja, para peserta beserta panitia makan bersama di gedung Kompas Gramedia setelah dipersilahkan untuk sholat magrib berjamaah.
 “Acara ini sangat bermanfaat bagi kami terutama bagi yang berminat dalam bidang fotografi tetapi belum mengetahui teknik yang benar,” tutup Resti Rhamadanty, siswi SMA Plus Negeri 17 Palembang.


Salam Panglima Palembang! 

My article on Kompas Muda Blog #BlogMuDA : Aku Bisa Fotografi! atau Kompas Muda

Sabtu, 21 Juni 2014

Mengapa Harus Putih?

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 07:14 0 komentar

Demokrasi. Sebuah kata yang tak asing lagi terdengar di kehidupan kita sehari-hari. Seperti negara lain yang melaksanakan demokrasinya, pastilah Indonesia juga turut melaksanakan demokrasi dengan puncaknya ialah pemilihan pemimpin negara untuk lima tahun kedepan. Pemilihan pemimpin negara ini tentu saja merupakan sebuah pesta demokrasi seluruh rakyat untuk memilih pemimpin negara yang baru dan mampu mengatur negara ini menjadi lebih baik lagi. Mungkin untuk sebagian orang awam, pesta demokrasi ini hanyalah sebuah formalitas untuk menjadi ajang menaikkan pamor masing-masing calon dan melaksanakan politik kotor sehingga mereka pun memilih untuk menjadi golongan putih.
Lantas mengapa harus menjadi golongan putih?
Pertanyaan ini mungkin sangat familiar ketika pesta demokrasi hadir di tengah kehidupan kita. Pertanyaan yang selalu muncul ketika muda-mudi tidak mau pusing memikirkan siapakah yang akan memimpin negara nanti atau akan menjadi apakah negara ini ketika dipimpin oleh seorang presiden yang baru. Ya, bagi sebagian muda-mudi menjadi bagian golongan putih adalah hal yang lumrah di tengah masyarakat ini. Namun, apakah mereka menyadari bahwa menjadi golongan putih merupakan sebuah kesia-siaan terhadap suara mereka untuk menentukan masa depan negara.
Muda-mudi yang baru menginjak usia 17 tahun kebanyakan memiliki pengetahuan yang awam mengenai dunia politik. Tetapi ini bukan untuk membuat mereka menjadi seorang yang kritis terhadap dunia politik negara yang kompleks namun hal ini ditujukan untuk membuat mereka memberikan penilaian tersendiri secara objektif terhadap negara ini, bukan penilaian subjektif berdasarkan desas-desus yang beredar mengenai negara ini tanpa disertai bukti yang nyata. Rumit? Tentu. Ini memang terlihat rumit jika kita tak memahaminya, terlebih jika kita mulai diakui sebagai penduduk Indonesia yang sah dengan adanya KTP. Tetapi tanpa kita sadari, menjadi seorang warga negara yang baik adalah dia yang turut berpartisipasi untuk negara ini terutama dalam hal pesta demokrasi.
Lalu apakah hubungannya?
Terlihat dari penjelasan sebelumnya, dikatakan bahwa seorang warga negara yang baik adalah dia yang turut berpartisipasi untuk negara ini terutama dalam hal pesta demokrasi. Ya, sebagai warga negara Indonesia yang baru diakui keabsahannya, kita--muda-mudi--seharusnya menjadi warga negara yang turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi, bukan menjadi golongan putih. Karena hak suara yang kita miliki ini sangatlah berpengaruh untuk masa depan Indonesia lima tahun kedepan. Tentunya kita tidak ingin Indonesia menjadi negara yang penuh dengan korupsi, bukan? Maka dari itu, mulailah menilai sesuatu secara objektif, terutama menilai sisi positif masing-masing calon pemimpin negara yang ada. Lihatlah visi dan misi mereka, ikuti perkembangan kampanye masing-masing calon, jadilah muda-mudi Indonesia yang cerdas dalam memilah fakta dan opini, dan tetapkan pilihan berdasarkan hati nurani. Dan jika kita telah melalui hal-hal tersebut, dan memiliki penilaian objektif untuk pilihan kita, sehingga kita tak ragu untuk memberikan suara kita di pesta demokrasi nantinya. Satu suaramu berpengaruh untuk masa depan negara ini lima tahun kedepannya.

Note:
Ini karya aku setelah blogging di website kompasmuda.com . Silahkan lihat artikel aslinya di http://kompasmuda.com/Karyamu/Blog/TabId/198/ArtMID/733/ArticleID/990/Mengapa-Harus-Putih.aspx . Terimakasih:)

Kamis, 09 Januari 2014

Tulis Jurnal Dalam Hidup Kejurnalistikan

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 23:33 0 komentar
Hai semuanya! Wah, udah nggak nyangka aja kalau besok udah pengumuman Volunter Kompas Muda. Diterima nggak ya? Hm, kepingin sih disana, biar bisa terus berkibar di dunia kejurnalistikan. Semoga akunya diterima. Oh iya, sedikit banyak kalian tahu tentang aku dari blog ini yang notabene tempat aku curhat, ngeshare karya pribadi atau kadang suka gila-gilaan sendiri disini. Oke, mungkin kalian udah banyak yang tahu masalah seseorang mengcopas karya aku lewat postingan berapa hari yang lalu. Sejujurnya sih, aku sih santai aja kalau dia copas untuk membagikan di blog dan bilang itu karya aku terus kasih link blog aku. Aku sih masih bisa nerima kalau yang begituan bahkan semua blogger bisa memaklumi kalau karyanya di copas di blog orang tapi orang tersebut membuat karya itu atas nama siapa dan memberi tahu sumbernya dari mana. Tapi gimana dengan orang yang udah copas terus mengaku karyanya dan mengirimkan karyanya di dalam perlombaan atau media cetak dan mengaku itu atas nama dia dan murni karya dia? Coba deh dipikir lagi ya terutama kalian yang memang mengerti.
Nah, next roll, aku memang hobi nulis dari dulu tapi memang aku orangnya sedikit agak mudah minderan jadi setiap karya yang aku buat biasanya cuma ditempatin di catatan Facebook atau blog ini. Maksud aku sendiri ditempatin disitu soalnya aku kepengen orang mengkritik tentang tulisan aku mulai dari cara penulisan, gaya bahasa sampai dengan alur cerita. Soalnya itu membuat aku semakin terpacu untuk lebih baik lagi.
Seperti saat ini nih, karena aku pernah ikut tes di suatu tempat dan nggak lulus karena belum rejeki dari Allah, Allah ngasih aku kesempatan yang lebih baik lagi untuk menetap disana. Kalian tahu dimana? Yup, di ruang redaksi Tribun Sumsel sebagai jurnalis pelajar untuk halaman se-Sumatera Selatan. Siapa yang nggak makin tertarik untuk terjun di dunia tulis-menulis coba? Bayangin aja ya, itu adalah momen yang paling kece sedunia! Jadi jurnalis di usia yang sebenarnya belum produktif untuk bekerja dan bisa membantu orang tua plus mendapat pengalaman kerja selama satu tahun. Wah, memang itu benar-benar momen yang membahagiakan sekaligus memberi kenangan tersendiri.
Eh, ada yang tahu kenapa aku kasih judul seperti diatas? Sebenernya jawabannya mudah kok. Aku suka menulis sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan dan aku masukkin dalam jurnal terus akunya selalu ingin hidup di dalam dunia yang berbau kejurnalistikan. Agak ribet ya? Tapi pahamin aja, ntar ngerti sendiri kok. Aku punya harapan nih, semoga orang yang mengcopas karya aku segera minta maaf dan mengklarifikasi semuanya. Ya bagaimanapun itu kan namanya mencuri ide dan karya orang, rite?
Hm, sampai sini dulu ya. Semoga besok ada nama aku dan foto diatas itu adalah foto kartu identitas wartawan aku dan salah satu tulisan aku yang pernah ada di koran. Sayonara!

Senin, 06 Januari 2014

Artikel: Museum, Rumah Sejarah Penuh Budaya

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 07:51 0 komentar

Dewasa ini, siapapun pasti mengenal tempat dengan kumpulan benda-benda bersejarah yang seringkali kita sebut dengan museum. Rumah sejarah penuh budaya yang berisi benda-benda bersejarah dari jaman nenek moyang kita ini terkadang kurang mendapat perhatian lebih dari masyarakat sekitar. Dengan alasan yang beragam, mulai dari bosan, tidak menarik sampai dengan fasilitas yang tidak memadai pun menjadi topik yang sangat klasik bagi masyarakat sekitar untuk tidak mengunjungi museum. Padahal sebenarnya masyarakat harus lebih mengenal budaya sendiri dibandingkan budaya daerah maupun negara lain.

Hal ini bisa kita lihat dari kurangnya minat anak remaja masa kini terhadap kebudayaannya sendiri. Lalu dilanjutkan dengan kurangnya program dari sekolah untuk berkunjung ke museum. Padahal sekolah merupakan sarana pendidikan pertama yang seharusnya mengenalkan budaya daerah sendiri kepada remaja masa kini. Agar mereka lebih bisa menghargai dan menjaga warisan dari nenek moyang yang ada. Dan bila ditelaah lebih jauh, museum sekarang telah mengalami pemerosotan kunjungan.

Sangat disayangkan sekali  hal tersebut dapat terjadi. Padahal warisan budaya yang ada mampu membuat nama daerah tersebut maupun negara kita sendiri, Indonesia menjadi negara sejuta kebudayaan jika dilestarikan dengan baik oleh remaja yang merupakan generasi penerus bangsa melalui pengenalan dini melalui museum.

Dan jika diperhatikan lebih lanjut lagi, pengunjung yang datang ke museum bukan untuk melihat benda-benda sejarah yang ada disana, melainkan untuk sekadar berfoto atau hanya untuk riset karya ilmiah. Sebenarnya, perlu adanya perhatian lebih lagi oleh pemerintah untuk mengadakan program pengunjungan museum secara berkala untuk mengenalkan kembali kebudayaan daerah sendiri kepada remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Dan bila tidak diperkenalkan, negara Indonesia akan mengalami pencurian kebudayaan lagi oleh negara lain.

Minggu, 05 Januari 2014

Malam Minggu Niko

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 19:04 0 komentar
Oh, hai semuanya!
Aduh mau cerita sedikit nih pengalaman seorang junior yang lagi di training di TSRulers generasi kedua. Sebenernya sedih juga sih soalnya sebentar lagi mau jadi alumni crew TSRulers sekaligus jadi angkatan penegak. Semoga aja sih di generasi-generasi selanjutnya semakin berkarya dan membuat nama TSRulers harum dan semakin menjadi rubrik pelajar Sumatera Selatan yang bisa membudayakan membaca kembali di kalangan remaja, hm, kalau bisa sih dapet penghargaan gitu hehe. Amin ya Rabbalamin.
Eits, back to topic guys!
Jadi aku punya pengalaman seru dan buat ngakak sepanjang jalan kenangan *eh
Mau tahu apa? Ayoo, kepoin sampe selesai ya ceritanya :p
Kemarin, tepatnya di tanggal 4 Januari 2013 sekitar jam 14.00 WIB, aku bersama crew TSRulers generasi 1 dan 2 asyik rapat ngebahas tentang proyek yang kami adakan sekitar bulan Maret nanti. Rencananya sih proyek itu untuk se-Kota Palembang hihi nah, disitu tuh ada junior dalam masa training yang namanya Niko Satria Adi. Anaknya tinggi menjulang berayun-ayun seperti nyiur kelapa, loh haha nggak deng bercanda doang. Nah jadi di tengah asyik-asyiknya rapat yang notabene nggak jelas gara-gara tiap mau bahas agenda rapat malah ngawur curcol dan ngakak sampe tumpeh-tumpeh air liur *halah. Jadi berakhirlah rapat kami dengan waras sekitar jam 7 malam. TUJUH MALAM! Bayangkan berapa lama kami ngawur dan baru waras rapat! Ayo bayangkan!!!
Nah, ditengah kegalauan habis rapat tadi, aku yang dilanda konser akbar cacing-cacing di perut curi semua nutrisi akhirnya angkat bicara. Eh bicara nggak bisa diangkat ya? Yaudah, selatankan bicara.
Loh, kok selatankan bicara, Vin? Ah, mudah jawabannya. Karena utarakan udah terlalu mainstream, bung!
Oke, kembali ke...tablet!
Vin situ kagak punya tablet! Adanya sirup!
Oh iya, bener katamu nak! Aku punya sirup, nggak punya tablet, hiks.
Lah iya, aku mau kembali cerita. Jadi rapat edisi makan-makan tadi menghasilkan kelaparan yang lebih dahsyat! Bukan, menghasilkan rencana ke Benteng Kuto Besak untuk makan mie tek-tek. Pada tahu mie tek-tek kan? Semoga aja ya, kalo nggak search aja di google hoho
Nah, waktu mau otewe kesana, ternyata mendung udah menghantui kami. Dan walhasil kami berhasil kesana dengan keadaan selamat walaupun nasib Niko mulai merana dari otewe tadi.
Ada yang tahu kenapa? Haha, itu karena Niko mesti ngebonceng dua wanita cantik jelita bernama Ayu Vinesya dan Jelita Dwi Kasturi ke BKB tanpa helm wakakak malangnya nasibmu nak!
Dan sampai disana, kami makan mie tek-tek, enak banget loh, sampe Niko dengan jujur malah ngomong mau tambah lagi haha itu perut atau laut, dek? Kok nggak kenyang-kenyang? ckck
Nah, waktu lagi asyik makan, hujan mengguyur bung! Dan kami berdempet-dempetan di satu payung. Satu payung untuk lima orang! Hidup payung!
Lumayan lama juga sih hujannya tapi alhamdulillah reda. Jadi kami lanjut perjalanan mau balik ke kantor lagi. Tapi sayang nih, emang lagi apes atau gimana, baru sampe di tempat parkiran eh hujan lagi. Dan dengan modal baju basah yang udah nempel di badan, kami ngebut balik ke kantor.
Lagi dan lagi, Niko selalu kena apes maksimal diantara kami berlima. Bajunya yang paling basah total diantara kami semua dan kembali membonceng aku dan jelita *nasibgabisabawakendaraan*
Agak kasihan sih lihat nasibnya, sampe gemetaran dia bawa motor.
Akhirnya jeng jeng jeng...kami sampai di kantor dalam keadaan basah-basahan!
Ya ampun, sampe kasihan deh lihat nasib Niko malem itu.
Udah nggak pake jaket, basah kuyup, kedinginan, uangnya habis, ngebonceng anak orang yang nggak pake helm, dan...hape low.
Hm, malangnya nasibmu nak. Bener-bener malam minggu (apes) Niko.
 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos