Kamis, 09 Januari 2014

Tulis Jurnal Dalam Hidup Kejurnalistikan

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 23:33 0 komentar
Hai semuanya! Wah, udah nggak nyangka aja kalau besok udah pengumuman Volunter Kompas Muda. Diterima nggak ya? Hm, kepingin sih disana, biar bisa terus berkibar di dunia kejurnalistikan. Semoga akunya diterima. Oh iya, sedikit banyak kalian tahu tentang aku dari blog ini yang notabene tempat aku curhat, ngeshare karya pribadi atau kadang suka gila-gilaan sendiri disini. Oke, mungkin kalian udah banyak yang tahu masalah seseorang mengcopas karya aku lewat postingan berapa hari yang lalu. Sejujurnya sih, aku sih santai aja kalau dia copas untuk membagikan di blog dan bilang itu karya aku terus kasih link blog aku. Aku sih masih bisa nerima kalau yang begituan bahkan semua blogger bisa memaklumi kalau karyanya di copas di blog orang tapi orang tersebut membuat karya itu atas nama siapa dan memberi tahu sumbernya dari mana. Tapi gimana dengan orang yang udah copas terus mengaku karyanya dan mengirimkan karyanya di dalam perlombaan atau media cetak dan mengaku itu atas nama dia dan murni karya dia? Coba deh dipikir lagi ya terutama kalian yang memang mengerti.
Nah, next roll, aku memang hobi nulis dari dulu tapi memang aku orangnya sedikit agak mudah minderan jadi setiap karya yang aku buat biasanya cuma ditempatin di catatan Facebook atau blog ini. Maksud aku sendiri ditempatin disitu soalnya aku kepengen orang mengkritik tentang tulisan aku mulai dari cara penulisan, gaya bahasa sampai dengan alur cerita. Soalnya itu membuat aku semakin terpacu untuk lebih baik lagi.
Seperti saat ini nih, karena aku pernah ikut tes di suatu tempat dan nggak lulus karena belum rejeki dari Allah, Allah ngasih aku kesempatan yang lebih baik lagi untuk menetap disana. Kalian tahu dimana? Yup, di ruang redaksi Tribun Sumsel sebagai jurnalis pelajar untuk halaman se-Sumatera Selatan. Siapa yang nggak makin tertarik untuk terjun di dunia tulis-menulis coba? Bayangin aja ya, itu adalah momen yang paling kece sedunia! Jadi jurnalis di usia yang sebenarnya belum produktif untuk bekerja dan bisa membantu orang tua plus mendapat pengalaman kerja selama satu tahun. Wah, memang itu benar-benar momen yang membahagiakan sekaligus memberi kenangan tersendiri.
Eh, ada yang tahu kenapa aku kasih judul seperti diatas? Sebenernya jawabannya mudah kok. Aku suka menulis sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan dan aku masukkin dalam jurnal terus akunya selalu ingin hidup di dalam dunia yang berbau kejurnalistikan. Agak ribet ya? Tapi pahamin aja, ntar ngerti sendiri kok. Aku punya harapan nih, semoga orang yang mengcopas karya aku segera minta maaf dan mengklarifikasi semuanya. Ya bagaimanapun itu kan namanya mencuri ide dan karya orang, rite?
Hm, sampai sini dulu ya. Semoga besok ada nama aku dan foto diatas itu adalah foto kartu identitas wartawan aku dan salah satu tulisan aku yang pernah ada di koran. Sayonara!

Senin, 06 Januari 2014

Artikel: Museum, Rumah Sejarah Penuh Budaya

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 07:51 0 komentar

Dewasa ini, siapapun pasti mengenal tempat dengan kumpulan benda-benda bersejarah yang seringkali kita sebut dengan museum. Rumah sejarah penuh budaya yang berisi benda-benda bersejarah dari jaman nenek moyang kita ini terkadang kurang mendapat perhatian lebih dari masyarakat sekitar. Dengan alasan yang beragam, mulai dari bosan, tidak menarik sampai dengan fasilitas yang tidak memadai pun menjadi topik yang sangat klasik bagi masyarakat sekitar untuk tidak mengunjungi museum. Padahal sebenarnya masyarakat harus lebih mengenal budaya sendiri dibandingkan budaya daerah maupun negara lain.

Hal ini bisa kita lihat dari kurangnya minat anak remaja masa kini terhadap kebudayaannya sendiri. Lalu dilanjutkan dengan kurangnya program dari sekolah untuk berkunjung ke museum. Padahal sekolah merupakan sarana pendidikan pertama yang seharusnya mengenalkan budaya daerah sendiri kepada remaja masa kini. Agar mereka lebih bisa menghargai dan menjaga warisan dari nenek moyang yang ada. Dan bila ditelaah lebih jauh, museum sekarang telah mengalami pemerosotan kunjungan.

Sangat disayangkan sekali  hal tersebut dapat terjadi. Padahal warisan budaya yang ada mampu membuat nama daerah tersebut maupun negara kita sendiri, Indonesia menjadi negara sejuta kebudayaan jika dilestarikan dengan baik oleh remaja yang merupakan generasi penerus bangsa melalui pengenalan dini melalui museum.

Dan jika diperhatikan lebih lanjut lagi, pengunjung yang datang ke museum bukan untuk melihat benda-benda sejarah yang ada disana, melainkan untuk sekadar berfoto atau hanya untuk riset karya ilmiah. Sebenarnya, perlu adanya perhatian lebih lagi oleh pemerintah untuk mengadakan program pengunjungan museum secara berkala untuk mengenalkan kembali kebudayaan daerah sendiri kepada remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Dan bila tidak diperkenalkan, negara Indonesia akan mengalami pencurian kebudayaan lagi oleh negara lain.

Minggu, 05 Januari 2014

Malam Minggu Niko

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 19:04 0 komentar
Oh, hai semuanya!
Aduh mau cerita sedikit nih pengalaman seorang junior yang lagi di training di TSRulers generasi kedua. Sebenernya sedih juga sih soalnya sebentar lagi mau jadi alumni crew TSRulers sekaligus jadi angkatan penegak. Semoga aja sih di generasi-generasi selanjutnya semakin berkarya dan membuat nama TSRulers harum dan semakin menjadi rubrik pelajar Sumatera Selatan yang bisa membudayakan membaca kembali di kalangan remaja, hm, kalau bisa sih dapet penghargaan gitu hehe. Amin ya Rabbalamin.
Eits, back to topic guys!
Jadi aku punya pengalaman seru dan buat ngakak sepanjang jalan kenangan *eh
Mau tahu apa? Ayoo, kepoin sampe selesai ya ceritanya :p
Kemarin, tepatnya di tanggal 4 Januari 2013 sekitar jam 14.00 WIB, aku bersama crew TSRulers generasi 1 dan 2 asyik rapat ngebahas tentang proyek yang kami adakan sekitar bulan Maret nanti. Rencananya sih proyek itu untuk se-Kota Palembang hihi nah, disitu tuh ada junior dalam masa training yang namanya Niko Satria Adi. Anaknya tinggi menjulang berayun-ayun seperti nyiur kelapa, loh haha nggak deng bercanda doang. Nah jadi di tengah asyik-asyiknya rapat yang notabene nggak jelas gara-gara tiap mau bahas agenda rapat malah ngawur curcol dan ngakak sampe tumpeh-tumpeh air liur *halah. Jadi berakhirlah rapat kami dengan waras sekitar jam 7 malam. TUJUH MALAM! Bayangkan berapa lama kami ngawur dan baru waras rapat! Ayo bayangkan!!!
Nah, ditengah kegalauan habis rapat tadi, aku yang dilanda konser akbar cacing-cacing di perut curi semua nutrisi akhirnya angkat bicara. Eh bicara nggak bisa diangkat ya? Yaudah, selatankan bicara.
Loh, kok selatankan bicara, Vin? Ah, mudah jawabannya. Karena utarakan udah terlalu mainstream, bung!
Oke, kembali ke...tablet!
Vin situ kagak punya tablet! Adanya sirup!
Oh iya, bener katamu nak! Aku punya sirup, nggak punya tablet, hiks.
Lah iya, aku mau kembali cerita. Jadi rapat edisi makan-makan tadi menghasilkan kelaparan yang lebih dahsyat! Bukan, menghasilkan rencana ke Benteng Kuto Besak untuk makan mie tek-tek. Pada tahu mie tek-tek kan? Semoga aja ya, kalo nggak search aja di google hoho
Nah, waktu mau otewe kesana, ternyata mendung udah menghantui kami. Dan walhasil kami berhasil kesana dengan keadaan selamat walaupun nasib Niko mulai merana dari otewe tadi.
Ada yang tahu kenapa? Haha, itu karena Niko mesti ngebonceng dua wanita cantik jelita bernama Ayu Vinesya dan Jelita Dwi Kasturi ke BKB tanpa helm wakakak malangnya nasibmu nak!
Dan sampai disana, kami makan mie tek-tek, enak banget loh, sampe Niko dengan jujur malah ngomong mau tambah lagi haha itu perut atau laut, dek? Kok nggak kenyang-kenyang? ckck
Nah, waktu lagi asyik makan, hujan mengguyur bung! Dan kami berdempet-dempetan di satu payung. Satu payung untuk lima orang! Hidup payung!
Lumayan lama juga sih hujannya tapi alhamdulillah reda. Jadi kami lanjut perjalanan mau balik ke kantor lagi. Tapi sayang nih, emang lagi apes atau gimana, baru sampe di tempat parkiran eh hujan lagi. Dan dengan modal baju basah yang udah nempel di badan, kami ngebut balik ke kantor.
Lagi dan lagi, Niko selalu kena apes maksimal diantara kami berlima. Bajunya yang paling basah total diantara kami semua dan kembali membonceng aku dan jelita *nasibgabisabawakendaraan*
Agak kasihan sih lihat nasibnya, sampe gemetaran dia bawa motor.
Akhirnya jeng jeng jeng...kami sampai di kantor dalam keadaan basah-basahan!
Ya ampun, sampe kasihan deh lihat nasib Niko malem itu.
Udah nggak pake jaket, basah kuyup, kedinginan, uangnya habis, ngebonceng anak orang yang nggak pake helm, dan...hape low.
Hm, malangnya nasibmu nak. Bener-bener malam minggu (apes) Niko.
 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos