Rabu, 29 Februari 2012

Cerbung : Mandy dan Landy (2)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 14:26 0 komentar
     Siang itu, panas menyengat dengan sangat hebat. Semua yang tengah berada di bawah naungan pohon pun tak dapat menutupi gerahnya hari saat itu termasuk Mandy yang tengah duduk dibawah naungan pohon bersama Ghina.
     " Panas banget sih hari ini ! " gerutu Ghina sambil berkipas dengan tangannya.
     " Namanya aja cuaca, Ghin. Siapa yang tau pasti kan ? " ceplos Mandy masih dalam keluguannyal.
     " Aduh tapi gak gini juga kali, Man ! kalo bik Imah lagi nyuci pakaian pasti langsung kering ! "
     " Yaudah, mendingan kita pergi ke kantin beli minuman dingin untuk ngelegain gerah, em, sekalian juga sih aku mau muterin sekolah ini. Kamu kan enak punya kakak disini, siapa tuh namanya ? "
     " Vidar, tepatnya Alvidar David Ikhsan. " jelas Ghina kemudian.
     " Namanya bagus ya ! " puji Mandy.
     " Jadi gak nih ke kantin ? " Ghina memastikan kembali kepada Mandy.
     " eh iya, jadi. Yook " ajak Mandy kemudian. Lalu mereka pun beranjak pergi menuju ke kantin.
     Saat ditengah perjalanan menuju ke kantin, tiba-tiba saat mereka di koridor mengarah ke kantin brukkk... lagi-lagi Mandy menabrak seseorang dan ternyata lagi-lagi yang ditabrak adalah " penguasa " sekolahnya, Landy ! namun kali ini Landy tengah membawa sebotol kaleng minuman bersoda dan semua isinya seketika tumpah ke seragam putih-bersihnya.
     " Sialan ! baju gue basah kan akhirnya ! " kesal Landy akhirnya.
     " Aduh, maaf kak Landy ! " ucap Mandy tergagap sambil mengeluarkan sapu tangan dari kantong bajunya.
     " Makanya kalo jalan hati-hati dong ! " cowok berperawakan indo yang berada disebelah Landy angkat bicara.
     " Aduh maaf banget ya kak Erick. It's an accident !  " ucap Ghina seakan membela Mandy.
     " Okay, no problem but him ? how about him ? his uniform is bad now ! and you know that he is Landy, Ghin ! oh God, what the girls say if they know this ? " gerutu cowok indo yang bernama Erick itu.
      Sementara Ghina dan Erick sibuk berdebat karena memang mereka dari sebelum masuk SMA Tunas Harapan terkenal tidak akur satu sama lain, Mandy sibuk meminta maaf kepada Landy. Dan kali ini sayangnya Diva, sosok paling populer di SMA Tunas Harapan yang notabene adalah pemuja Landy datang menghampiri.
      " Hey, what's going on ? " tanya Diva pada mereka terutama melihat sosok pujaannya yaitu Landy berada disitu. Sepintas Mandy menilik dari atas sampai bawah penampilan Diva. Sempurna ! itulah satu kata yang hanya mampu ia keluarkan dari pikirannya. Diva begitu cantik dengan rambut berwarna pirang asli, tinggi,putih dan satu hal yang menarik perhatian Mandy adalah bola matanya yang berwarna coklat kayu. Sungguh makhluk yang seperti bidadari !
       " Hello, girl ! Who are you ? are you dreaming with me ? haha " tanya Diva yang menyadarkan lamunan Mandy. Sontak Mandy pun menggeleng keras dan mengatakan bahwa ia tak sengaja menumpahkan minuman kaleng bersoda di seragam pujaan Diva itu. Diva yang mendengar itu akhirnya otomatis geram dan mengomeli Mandy yang ketakutan. Hingga tiba-tiba karena saking tidak kuat menahan omelan Diva, Mandy berlari sambil menangis meninggalkan mereka semua yang berada disitu. Ghina yang melihat Mandy langsung refleks mengejar Mandy. Setelah mereka hilang ditelan koridor sekolah, Landy pun angkat bicara, " KETERLALUAN LO ! " dan menyusul Mandy serta Ghina. Erick yang tak pernah melihat Landy membentak seseorang hanya bisa tertegun namun akhirnya tersadar dan berlari menyusul mereka bertiga.

Selasa, 28 Februari 2012

Sepi

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 18:36 0 komentar
Ketika kau merasakan akan hadirnya desir angin
Merasakan rintik yang tak berujung reda
Sesak tiada arti menghampiri diri kini
Perih bak mendung diliputi gemuruh gempita

Sepi menghampiri seolah tak mengerti kini
Tiada lagi keharuman dunia akan canda tawa
Seolah kau tahu semua musnah tiada bersisa
Melibas tanpa menyisakan setitik cahaya remang

Sesak menghampiri bak dilanda badai besar
Aku kini ilalang kesepian diantara mawar
Dihimpit berjuta keegoisan dan kekejaman alam

Sabtu, 25 Februari 2012

Bougenvil

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 18:49 0 komentar
" Terkadang hidup tak sesuai dengan apa yang engkau mau " itulah peribahasa yang sering aku dengar setiap kali aku mengeluh akan suatu hal yang tak pernah aku inginkan datang ke hidupku. Tapi entah kenapa kali ini ada hal yang sebenarnya tak ingin aku hadapi namun HARUS hadapi sendirian. Kalian tahu kenapa aku memberi judul postingan ini " BOUGENVIL " ? pasti kalian hanya pikir bahwa itu tanaman biasa yang tumbuh tanpa harus dirawat seperti tanaman lainnya. Namun ini bukan sekedar nama ! tapi sebuah makna yang terisyarat dalam kehidupan sang bunga bougenvil itu sendiri. Sejujurnya aku baru menyadari bahwa bougenvil bukanlah tanaman biasa, ia tanaman hebat ! ia hidup, tumbuh, berkembang dan menampilkan corak-corak indah pada bunganya tanpa harus dimanjakan ! ia berdiri sendiri !
Aku mulai mengerti akan arti terdalam dari sang bougenvil itu ketika aku membaca suatu kisah yang sarat akan makna kehidupan. Dalam cerita itu aku melihat bahwa sosok yang diceritakan dalam kisah itu begitu tegar. Ia ditelantarkan oleh keluarga kandungnya sendiri, hidup tanpa kecukupan, dan ia besar dengan kesuksesan yang ia raih sendiri tanpa bantuan dari keluarganya. Sungguh, disitu benar-benar ditampilkan betapa kejamnya alam mendidik kita untuk menjadi orang tangguh tanpa harus berpangku tangan kepada orang tua ! Seperti tanaman bougenvil yang tumbuh dan berkembang tanpa harus dirawat !
Dan aku akui aku ingin seperti itu ! kini, aku mulai merasakan bagaimana alam mulai mendidikku ! aku ingin menjadi sang bougenvile itu --- hidup tanpa harus dirawat --- hanya mengandalkan ketegaran, kesabaran, keikhlasan, dan ibadah !!! Tuhan ingin aku menjadi hamba-Nya yang terbaik dan aku pun ingin menjadi hamba-Nya yang bekerja akan keikhlasan hati ! niatku tulus --- aku ingin membantu kedua orang tuaku --- karena aku sadar aku terlahir bukan dari keluarga serba mewah. Aku terlahir dari keluarga sederhana. Mungkin jika kalian bertemu denganku pastilah kalian berpikir bahwa aku ini tak perduli akan diriku sendiri dan pendiam. Pada dasarnya aku memang pendiam karena aku besar di lingkungan yang hampir bahkan nyaris tidak ada anak kecil satupun, jadi mau tidak mau aku harus bersikap dewasa --- tidak seperti remaja seusiaku --- walaupun terkadang teman-temanku salah mengartikan sikapku itu. Ya, aku akui bahwa lain pribadi maka lain pula pemikiran dan sifat.
Ada perasaan dan angan-angan ketika aku membayangkan bila kelak aku menjadi apa yang aku inginkan. Amin ya Rabbalamin. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, teman-teman dan masyarakat. Seseorang yang membanggakan mereka yang selalu mendukungku meskipun aku tahu hanya aku dan akulah yang akan bermain dalam " drama " Tuhan. Seperti bougenvil yang tumbuh berkembang tanpa harus dirawat...

Jumat, 24 Februari 2012

Jiwa Mati

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:18 0 komentar
Mawar tumbuh di hamparan padang pasir
Terik panas menyengat sang surya menyapa
Tetesan embun tlah sirna dari dedaunan
Luluh lantah mengering seketika tak bersua

Perlahan menghilang dari peradaban hidup
Legenda jiwa yang terkekang sangkar emas
Meronta seakan marah pada alam ini
Menyisakan tetes demi tetes darah segar

Hening tak berangin sejuk
Mewarnai luasnya padang diliputi mawar
Tak nampak oasis penghilang lega
Yang ada hanya perih hati teruntai

Jiwa mati menelusuri padang panas
Tertusuk duri mawar menyayatkan perih
Oasis pelepas amarah tak tersisa
Menambah alas kaki terbuat dari kulit sejati

Akankah semua tampak sejati ?
Dengan melati meliputi padang rumput hijau
Tetesan embun memberikan kesejukan

Dalam sangkar emas, jiwa bahagia terkunci
Menunggu kematian menghampiri percuma
Bodohnya alam yang tega akan insan
Tampak samurai menghujam badan

Kamis, 23 Februari 2012

Cerbung : Mandy dan Landy ( 1 )

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 17:53 0 komentar
Landy masih ingat jelas dalam benaknya semua kenangan itu. Semua hal-hal sederhana yang tak mungkin ada lagi kini. Dimana ia masih bersanding manis disebelah gadis itu, memberikan senyuman terbaiknya, dan mengucapkan hal-hal kecil yang dapat membuat kami berdua tertawa riang. Rambut panjangnya, senyum manisnya, suara lembutnya lalu tatapan hangatnya yang mampu meluluhkan amarah Landy ketika ia benar-benar habis kesabaran. Namun semua itu kini tinggal kenangan. Dia pergi meninggalkan Landy untuk selama-lamanya. Dia telah tenang disisi-Nya, di tempat yang takkan mampu lagi Landy gapai. Dan kini Landy harus menjalani hari-harinya yang berbeda bahkan sangat berbeda sekarang. Meski hatinya begitu berat merelakan pujaan hatinya itu, ia harus bisa tanpanya kini ! Perlahan ia menaruh bingkai foto yang terpampang wajah bahagianya dengannya dulu kemudian beranjak dari kamar. Mengambil kunci mobil lalu pergi.
     Pagi itu di jalanan. Landy membawa mobilnya, menelusuri jalanan menuju sekolah. Tampak hiruk-pikuk mulai mewarnai jalanan. Memang ini adalah hal biasa yang selalu ia lihat ketika matahari mulai menampakkan seberkas sinarnya untuk menerangi dunia ini tapi Landy tak perduli akan semua itu, yang Landy tahu kini adalah ia harus ke sekolah, dan menemui teman-teman lalu mewarnai sekolah dengan tingkah kami.
" Pagi, bro ! " sapa cowok tinggi berambut keriting itu ketika Landy membuka pintu mobilku.
" Hm... " gumam Landy seakan mengatakan " selamat pagi " juga kepadanya.
" Mana Rifky ama Erick ? " lanjut Landy setelah melihat keadaan sekitar.
" Belom dateng, Land, palingan bentar lagi deh ! " sambil melihat jam tangan kelas atas yang ada di tangannya.
" Oh. Cabut yok, Dar ! " ajaknya pada cowok berambut keriting yang bernama Vidar itu.
" yakin lo mau cabut ? hari ini anak-anak baru kelas sepuluh udah pake seragam es-em-a loh ! sape tau ada yang mau lo  gebet nih ! secara seorang Landy gitu, cowok paling kece di SMA Tunas Harapan pasti bisa dapetin yang lebih dari Diva ! "
" apaan sih lo ? udah gih, buruan telepon Rifky ama Erick ! gue udah gerah di sekolahan mulu ! " kesalnya kemudian.
" woles, bro ! bentar ya " kemudian Vidar pun menelepon sesuai dengan perintahnya.
" bentar lagi mereka sampe, Land. Kita disuruh nunggu di tempat biasa " ucapnya kemudian.
" hm, oke ! buruan gih ! " jawab Landy singkat pada Vidar kemudian pergi meninggalkan pelataran parkiran yang ada disitu.
Saat mereka tengah berjalan santai, tiba-tiba brukk... sebuah hantaman kecil mengenai tepat di tubuh Landy. Nampak seorang cewek beraksesoris serba putih seperti tergesa-gesa.
" Punya mata gak lo ? " tanya Landy kasar pada cewek itu.
" Maaf kak, saya gak sengaja " terdengar nada menyesal diantara kata-kata itu.
" Siapa nama lo ? " selidik Landy ketika melihat seragam cewek itu. " Oh Amanda Queenera. Kelas satu ya ? " desis Landy kemudian sambil melihat nama yang tertera di seragam putih milik gadis itu.
" i..ya.. kak..." nada gugup mulai mewarnai gadis bernama Amanda itu. Namun tiba-tiba seseorang nampak dari kejauhan berlari kecil menghampiri mereka.
" kak Landy, kak Vidar, maafin Mandy ya, kak. " sapa orang itu padaku dan Vidar.
" temen lo, Ghin ? " Vidar mulai angkat bicara. Dan seketika gadis yang bernama Ghina itupun mengangguk mantap.
" kamu kenal sama mereka, Ghin ? " kepolosan masih terasa di wajah bernama Mandy itu.
" iya, Dy. Ini kak Landy, " penguasa" sekolah kita. Terus yang ini kakak aku, namanya kak Vidar. Mereka kelas 12 disini, Dy. Tepatnya 12 IPA 4. Sebenernya ada lagi temen mereka, namanya kak Rifky dan kak Erick. Mereka cowok-cowok keren di sekolah ini, Dy. " ucap Ghina panjang lebar kepada Mandy. Mandy yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah saja. Disinilah semua cerita itu bermula !

Selasa, 21 Februari 2012

Cerbung : Satu Senyuman untuk Cinta (10)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:51 0 komentar
degup jantung seakan berhenti, waktu seakan mati ketika mendengar itu. rasa cemas yang tak ada bandingannya mulai merasuki jiwa yang kalut itu. dengan sigap Edo berlari  sekencang-kencangnya menuju tempat itu. saat ia hampir tiba di tempat itu, Rinka telah meyambutnya dengan wajah gusar sambil duduk dan berharap semua akan baik-baik saja.
" gimana keadaannya ? " desak Edo dengan perasaan tak menentu.
" kritis " dalam kelirihan yang mendalam.
terhenyak mendengar kabar itu, Edo langsung terdiam membisu membayangkan sesuatu yang telah terjadi di depannya kini. kini hanya ia bisa terduduk di kursi dan memohon kepada Tuhan bahwa semua akan baik-baik saja nantinya. dan ketika Edo tengah asyik berdoa dalam hatinya, pintu ruangan terbuka. dilihatnya sang dokter keluar dari ruangan itu namun aliran darahnya terhenti saat melihat sosok dokter yang kini ada di depan matanya.
dalam kebingungan, sang dokter bertanya kepada Edo, " kok kamu disini sayang ? "
Rinka yang mendengar sang dokter berkata seperti itu langsung tersentak kaget seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. ia mengulang perkataan yang dikatakan sang dokter.
" kok kamu disini sayang ? hah ? Do, sebenernya dokter ini siapanya kamu ? jawab, Do ! jawab ! " desak Rinka dalam situasi genting ini.
" maaf anda ini siapa ya ? " dokter itu bertanya seakan tak mengerti situasi yang ada.
" saya temen dia, dok. temen pasien yang ada di dalam ruangan itu juga, dok ! dan dia ini orang yang paling berharga bagi pasien yang di dalam ruangan itu ! mereka ini dulunya sepasang kekasih, dok ! " jelas Rinka kemudian.
sang dokter yang mendegar penjelasan itu kemudian terdiam namun pada akhirnya ia angkat bicara.
" sayang... " nada lembut penuh kasih sayang yang getir ditujukan kepada Edo.
Edo hanya bisa mendongak ke arah sang dokter itu. setelah waktu yang cukup lama, akhirnya Edo pun angkat bicara.
" Ka, perkenalin. dokter ini calon istriku. dia Niza. " nada lirih mulai terasa di setiap kata-kata yang diucapkannya.
Rinka yang tak menyangka semua itu mendadak berubah pucat pasi.
" di..a.. cal..lon.. is..tri.. ka..mu..? " napas Rinka tercekat.
" iya, Ka. " sesal mulai menjalari seluruh tubuh Edo.
sang dokter yang ternyata adalah Niza, calon istri Edo akhirnya mengerti semua keadaan yang ada. perlahan, ia mulai menguatkan hatinya atas kenyataan yang hadir di hidupnya barusan. lambat laun ia mulai tersenyum kepada Rinka dan Edo yang terselimut dalam situasi buruk. saat Niza mulai ingin angkat bicara, salah satu suster yang awalnya berada di dalam tiba-tiba mendadak keluar dengan guratan wajah cemas.
" Dok, pasien dalam keadaan kritis !!! " suster itu memperingatkan. sontak, mereka bertiga yang dari tadi tenggelam dalam pembicaraan singkat itu mulai merasakan cemas yang besar.
" aku pasti nemuin dia dengan kamu, sayang ! aku janji ! " lalu Niza berlari ke dalam ruangan tempat Cinta terbaring kritis. harap-harap cemas mulai mengitari atmosfer di koridor itu. Tuhan, selamatkan Cinta.. aku mohon Tuhan.. ucap Edo lirih dalam hati. saat tengah dalam suasana berharap, suster lain memanggil Edo untuk masuk ke dalam.
" saudara Edo silahkan masuk ke dalam ! "
Edo pun melihat ke arah Rinka, dalam satu isyarat Rinka meyakinkan Edo. dalam perasaan tak menentu Edo pun memasuki ruangan itu.

***

hujan rintik-rintik mulai membasahi tempat itu. bau tanah basah mulai tercium di area itu. sebuah nisan manis telah tertancap di tanah basah itu bertuliskan nama seseorang yang telah tenang di alam surga sana menanti mereka yang masih hidup kini. sekarang, nama itu akan hanya dikenang bersama semua memori yang ada. Racinta Lomuri kini telah terbaring tenang dibalik tanah yang menutupinya.
saat semua pelayat telah meninggalkan tempat pemakaman itu, masih duduk terpekur semua dari mereka akan kenyataan yang ada. ya, disanalah Rinka, Edo, Kedua orang tua Cinta menatap ke arah gundukan tanah yang telah menyimpan jasad Cinta. penyesalan mulai menghampiri mereka semua terutama Edo.
saat kedua orang tua Cinta akan beranjak pergi, mereka berpamitan dengan Rinka dan Edo yang masih ada disana lalu mereka pun meninggalkan Rinka dan Edo yang masih dibalut rasa kehilangan yang mendalam.
" Do, ini dari Cinta " ucap Rinka sambil memberikan sepucuk surat dalam amplop. Edo menatap Rinka bingung seakan bertanya bagaimana bisa ini terjadi ! namun ia tetap mengambil pucuk surat itu dan membukanya.
" dia buat surat itu waktu dia sadar dari koma, kira-kira seminggu yang lalu " jelas Rinka kemudian namun tak digubris oleh Edo. perlahan membaca isi surat itu.

***

dear Edo


hei kamu apa kabar ? aku harap kamu baik-baik aja disitu ya. mungkoin kamu lagi baca surat ini setelah aku gak ada lagi di dunia ini. oh iya, selamat ya atas pernikahanmu dengan dokter Niza. maaf aku udah bawa Niza kembali ke hidup kamu. aku sengaja ngelakuin itu semua karena aku tahu, aku gak akan bisa ngebahagiain kamu nantinya. sejujurnya aku gak rela tapi ini harus aku lakuin demi kebahagiaan kamu dan Niza. Niza itu sangat menyayangi kamu, Do. jagain dia ya Do demi aku. sayangi dia seperti dulu kamu nyayangin aku bahkan harus lebih ! aku gak mau dia kenapa-kenapa, Do !  mungkin ini terakhir kalinya aku mengutarakan isi hati aku sama kamu ya ? soalnya kita udah terpisah jauh sekarang antara ruang dan waktu yang tak terhingga. maafin aku udah nyiain kamu selama ini. kamu yang terbaik dari yang lainnya, Do. aku terlalu menyayangi kamu sampe aku gak pernah mikirin diri aku sendiri. tapi setidaknya aku sekarang tersenyum di surga karena melihat kamu telah bersama dengan Niza. jangan sakiti dia ya, Do. aku mohon...
apapun yang membuatmu tersenyum akan selalu menjadi sebuah senyuman bagiku, Do. I LOVE YOU !


salam sayang dan rindu

Racinta Lomuri :))


***

setelah selesai membaca surat itu, secara tak sadar Edo pun meneteskan air matanya. " maafin aku, Cin " getir itu terasa ketika Edo mengucapkannya.
" ayo pulang " ajak Niza yang tiba-tiba muncul dan menaungi tubuh Edo dengan payung hitam. Edo yang teringat akan kata-kata di surat itu akhirnya mulai tersenyum dan mengangguk. Rinka yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir.
" kamu bener-bener yang terbaik Cinta " ucap Rinka lirih ke arah nisan itu lalu ia pun beranjak pergi. " aku duluan ya " kemudian meninggalkan Edo dan Niza.
" yok pulang " ajak Edo pada Niza. Niza yang mendengarkan itu hanya tersenyum kemudian mereka melangkahkan kakinya meninggalkan makam itu. namun saat langkah mereka tak terlalu jauh dari makam Cinta, desir angin yang aneh melewati Edo. terhenyak, Edo pun menoleh ke arah belakang dan ia melihat sosok Cinta tengah berdiri sambil tersenyum padanya. senyum yang begitu bahagia, senyum yang tak pernah ia lihat dari wajah Cinta sebelumnya. begitu manis dan tulus. Edo membalas senyuman itu dengan tulus pula lalu akhirnya sosok Cinta itu pun kemudian perlahan menghilang ditelan angin yang menyejukkan.
aku akan selalu membahagiakan Niza, karena kebahagiaan Niza adalah satu senyuman untuk Cinta di surga ! .. ucap Edo dalam hati. ya, satu senyuman untuk Cinta adalah kebahagiaan Edo disini juga !



T A M A T

Minggu, 19 Februari 2012

Cerbung : Satu Senyuman untuk Cinta (9)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 22:20 0 komentar
dalam hitungan detik, dering ringtone mengalun lembut di handphone canggih keluaran terbaru itu seolah mengisyaratkan bahwa itu adalah panggilan penting yang harus segera dijawab. dengan sigap, sang pemilik handphone tersebut segera menjawab
" ya sayang ? " tanyanya singkat namun jelas.
"  kamu lagi dimana sayang ? aku mau ngajak kamu jalan-jalan " terdengar nada manja yang khas penuh cinta kasih.
" aku lagi sibuk sayang, nanti aja ya. dah sayang " lalu klik, percakapan itupun diputus.
sang penelepon yang tadinya begitu bersemangat akhirnya mulai kecewa. ada getir aneh dalam dadanya yang tak bisa ia utarakan. mungkin dia lagi sibuk bener.. ucapnya dalam hati sambil menghela napas yang terasa menyesakkan dadanya, dilihatnya bunga yang tadi berhasil ia beli, segurat senyum getir mulai mewarnai wajahnya. setelah terlalu pekat ia memandang, akhirnya ia genggam bunga itu lalu ia memberhentikan kendaraan yang ia kendarai di pinggir jalanan. dilihatnya anak jalanan mendekati mobilnya. terlintas dalam benaknya, ia pun segera memberikan bunga itu kepada anak jalanan itu ditambah uang untuk menambah penghasilan anak jalanan itu.
" makasih ya kakak cantik " ucap anak jalanan itu sambil memberikan senyuman.
" kembali kasih adek " senyum manis pun mulai tergambar indah di wajahnya.
kemudian dengan riangnya anak jalana itu berlari dan mengatakan pada teman-temannya yang lain bahwa sosok seorang bidadari telah menolongnya hari ini.

***

langkah kaki tertatih-tadi terdengar menggema dalam bangunan tak jadi yang cukup sepi itu, berkelok-kelok namun sang pemilik kaki sudah tahu dengan pasti kemana koridor ini berakhir. tergesa-gesa ia menaiki tangga diujung koridor tersebut menuju tempat tujuan utama itu. dan kriett.. pintu diujung tangga pun terbuka. desiran angin langsung menerpa tubuh sosok itu ketika ia membuka pintu mungil itu.
" masih sama "  sambil melihat keadaan sekitar yang luas dan indah.
di tempat itu terdapat pot-pot bunga yang berisikan bunga mawar berbagai warna. cantik ! hanya satu kata itu yang dapat mewakilkan keadaan tempat itu namun entah mengapa tempat itu tak terawat seperti dahulu saat sang pemilik tempat itu masih ada disana.
terfokus pada satu titik, sosok itu mendekati tempat yang masih sangat khas baginya. disibaknya debu-debu yang menutupi tempat itu, dan seketika sosok itu tertegun. EDO LOVE CINTA ! kata-kata itu masih sangat jelas !
sosok itu pun tertegun. sosok itu ternyata adalah orang yang masih sangat akrab dengan tempat ini, dialah Edo !
perlahan kenangan akan masa lalu terlintas kembali dalam benak Edo.  sesak, itulah yang ia rasakan sekarang. semua terasa hampa ketika ia melihat kembali tulisan yang terpampang jelas di depannya. ya Tuhan, maafkan aku... ucap Edo lirih. alam yang seolah mengerti akan perasaan Edo pun mulai menetskan rintik-rintik hujan yang kemudian berubah menjadi hujan deras. masih dalam penyesalannya, Edo berdiri di tempat itu. wajahnya tak mampu lagi menutupi bahwa ia begitu mencintai sosok yang selama ini hadir dalam hidupnya walaupun sebentar. saat Edo tengah dalam ketertegunannya, nada dering di handphone-nya pun mengalun merdu. tersadar akan hal itu, Edo pun beralih mengambil handphone-nya dan melihat panggilan itu. tertera nama Rinka disana ! ada apa ? pikirnya dalam hati. lalu dengan sekali gerakan, ia menjawab panggilan itu. namun saat ia menjawab panggilan itu, ia pun terdiam dan dapat berucap apa-apa lagi !

Sabtu, 18 Februari 2012

Sebuah Tinta Kenangan Vina

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:03 0 komentar
Vina masih ingat saat itu, saat pertemuannya dengan pria itu. Di tempat Vina berdiri kini. Di bawah rindangnya pohon mangga.

Setahun yang lalu…

Saat itu, Vina tengah berdiri sendiri diantara taman sekolah yang tak begitu luas namun rindang. Sesosok yang telah dia kenal tiba-tiba datang melewatinya dan ia pun tersenyum kepadanya seolah itu hanya ditujukan kepadanya. Vina pun membalasnya tanpa sedikitpun ada perasaan bahwa ada orang lain yang berada diantara mereka. Ya, itu adalah hari dimana Vina mengenalnya dalam segurat senyum manis di wajah yang tampan itu.

Sepuluh bulan yang lalu…

            Vina melewati koridor yang penuh sesak menuju kantin yang sangat sederhana bagi para siswa disana. Vina yang saat itu tengah terburu-buru, dengan nekatnya menembus keramaian yang ada. Namun sesosok yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya datang dari arah yang berlawanan. Saat itu, ia menyuruh anak-anak lain untuk memberi jalan padanya, Vina pun tersipu malu padanya dan segera melewatinya. Jantungnya berdegup kencang saat tepat melewatinya yang Vina yakini pun ia merasakan perasaan yang sama padanya. Setelah Vina melewatinya, ia pun meninggalkannya dan tenggelam dalam keramaian kantin. Sejenak dua bola matanya mencari sosok pria itu namun Vina tak pernah menemukannya lagi. Dan Vina pun mengucapkan rasa terima kasih dalam hatinya.

Sembilan bulan yang lalu…

            Saat itu hari Jum’at, kelas Vina sedang tidak ada guru. Vina berdiri di depan pintu kelasnya yang nyaman, dan tiba-tiba ia melihat sosok yang akhir-akhir ini slalu mengganggu pikirannya. Sosok itu tengah berada di tengah lapangan, bermain bersama teman-temannya dalam tawa riang. Dan saat Vina tengah memperhatikannya, tiba-tiba Vina tak menyadari bahwa ia sedang mendekat. Lalu Vina pun tersentak kaget namun Vina segera berlari menuju ke tempat duduknya. Teman sebangkunya melihat dengan tatapan aneh karena tingkah Vina yang mendadak berubah gugup. Ia yang hendak bertanya pada Vina segera mengalihkan wajahnya ke jendela menuju sosok yang dari tadi Vina perhatikan.
            Betapa terkejutnya Vina saat melihat sosok yang ia kira mendekatinya ternyata mendekati gadis yang juga teman sekelasnya. Disaat itu wajahnya langsung berubah dan ia pun menundukkan kepalanya seolah tak ingin melihat apa yang akan terjadi pada gadis itu dan sosok yang sangat ia impikan.

Enam bulan yang lalu…

            Alunan lagu ‘takut’ dari Vierra membangunkan Vina dari mimpi indahnya, sejenak ia mengecek handphonenya yang mungil itu dan ternyata satu pesan masuk. Ia pun menghiraukannya namun ketika ia melihat sekali lagi, ternyata pesan masuk itu dari ‘dia’ ! dari sosok yang selama ini menghantuinya ! ialah Randa !
            Vina segera membuka matanya dan membaca pesan tersebut, satu pesan yang sangat berarti. Dengan cepat, ia membalas pesan itu dan tak lama kemudian Ramadhan pun membalas pesannya. Dan kejadian itu berlanjut hingga malam.

Lima bulan yang lalu…

            Pendekatan antara Vina dengan Randa semakin berlanjut hingga suatu hari Vina merasa tak tahan untuk menceritakan kisah ini pada sahabatnya. Namun malang, saat Vina tengah asyik menceritakan semua yang terjadi, musuhnya, Renald, mendengar semua itu dan ia pun menyiapkan sebuah rencana yang Vina pun tak pernah memikirkannya.
            Saat itu Vina tengah duduk membaca buku pelajarannya, tiba-tiba Renald mendekatinya dengan senyum kemenangan. Sejenak Vina pun melihat raut wajah itu dengan seribu pertanyaan mengapa dan saat itupula Renald mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sangat gusar. Renald mengatakan bahwa Randa tak menyukainya ! sungguh, Vina tak percaya mendengar semua kenyataan itu tetapi entah mengapa ketika ia mengatakan itu, Vina hanya melirik sekejap dan berkata jika Vina tak mencintainya.
            Dan ketika sore harinya, Vina yang merasakan galau akibat perkataan Renald di sekolah tadi akhirnya mengirim pesan ke Randa untuk menanyakan kebenaran perkataan Renald. Namun malang, pesan itu tak kunjung mendapat balasan dari Randa. Hingga tepat pukul tujuh malam, akhirnya Randa pun membalas pesan itu. Dan betapa terkejutnya Vina ketika melihat balasan dari Randa. Ia mengatakan bahwa ia hanya menganggap Vina sebagai temannya. Betapa hancurnya hati Vina ketika mendapat kenyataan itu !

Tiga bulan kemudian…

            Angin yang sejuk menghantarkan sebuah kisah sedih yang menggoreskan luka bagi Vina. Ingin rasanya ia melepas semua kenangan manis itu. Kenangan yang membuatnya berharap sesuatu yang tak mungkin. Sebuah harapan yang tak ingin orang itu mengisinya. Ya, kali ini Vina melupakan perasaan yang dulu mengisi relung hatinya. Karena satu hal yang ia tahu, orang yang ia cintai tak mencintainya. Orang itu mencintai seseorang yang lebih baik darinya.
            Dan saat ini, ia tengah berdiri melihat  tawa dari seseorang yang mengisi hatinya. Senyum getir ia tampakkan ketika melihat kebahagiaan Randa bersama gadis yang menjadi teman seperjuangannya, Mimi. Ya, kini Randa telah mencintai Mimi. Gadis yang jauh lebih baik darinya, gadis yang sangat serasi dengan Randa. Sedetik, ia meneteskan bulir-bulir air mata dan membasahi pipinya.
            Ia hanya berharap bahwa Mimi bisa membahagiakan Randa, orang yang ia cintai. Yang menjadi mentarinya beberapa bulan lalu, yang membuatnya rela berkorban demi Randa hanya karena Randa menyukai sesuatu. Randa yang dulu membuatnya tersenyum manis setiap ia menginjakkan kaki menuju gerbang sekolah.

Dua bulan yang lalu…

            Hari ini tepat saat pesta perpisahan, Vina datang dengan gaun berwarna abu-abu dengan corak batik hijau dan putih yang tampak elegan. Ia tersenyum kepada para panitia pesta tersebut. Dan ketika ia berjalan menuju ke dalam ruangan, tampak seseorang yang telah lama ia lupakan sedang bersama teman-temannya. Ia hanya tersenyum kecil dan segera berjalan anggun menuju ke tengah-tengah ruangan mencari sahabatnya, Dila.
            Saat itu, semua rasa senang dan sedih menjadi satu dalam hati terutama untuk Vina yang harus merasakan kesedihan yang dalam mengingat semua yang pernah terjadi di sekolah itu. Saat ia bersama sahabat-sahabatnya, saat ia membuat kejahilan, ataupun ketika ia merasakan cinta dari Randa.

Sebulan yang lalu…

            Tepat hari ini sebulan sebelum Vina berulang tahun. Saat itu, ia sedang membuka account twitternya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat mention dari seseorang yang ia telah lama lupakan, Ramadhan ! awalnya Vina ragu untuk membalas mention itu namun karena ia telah menganggap Ramadhan hanya teman alumni sekolahnya, tak ada rasa cinta yang dulu menghinggapi hatinya.

Hari ini…

            Hari ini tepat satu tahun ia bertemu dengan Randa. Dan kali ini Vina telah mengerti satu hal, cinta tak dapat dipaksakan walau saat itu ia sangat ingin memiliki Randa. Randa hanyalah serpihan kisah masa lalunya, kisah cinta yang bermakna. Kisah yang tertulis di kertas kehidupan Vina dengan tinta kenangan….

Kamis, 16 Februari 2012

Kabut

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 20:32 0 komentar
dalam kelam yang tak berujung pasti
melangkah dengan ragu, menguntai harapan semu
mencari arah dalam kabut malam 
dingin dan perlahan menusuk kalbu

detik demi detik langkah keraguan kini
diwarnai setitik pengkhianatan keji sang mentari
meronta seakan semua diam tak bersuara
terdiam seakan semua biasa saja

waktu perlahan menghunus tajam ke arah jantung
mengisyaratkan ketidakpastian akan arti kini
lambat laun semua pengkhianatan itu datang
menuntun air mata bergulir berjatuhan

Tuhan, salahkan jika diteruskan dalam hening ?
menarik arti dalam tatapan penuh tanya
maafkanlah jika semua tak pernah kembali
maafkanlah kini kabut itu menghalau cinta yang tak pasti

Selasa, 14 Februari 2012

Yang Terakhir

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:03 0 komentar
Ketika mentari tengah menampakkan sebagian dirinya di muka bumi yang permai, tampak seorang anak remaja tengah duduk di balkon sambil menikmati udara pagi.
“ huh, seger banget pagi ini “ ucapnya.
non Vita, tuan dan nyonya besar udah pulang. Non nggak turun ke bawah ? “ ucap seseorang dari luar.
Sontak sang gadis remaja itu pun berlari mendekati pintu kamarnya dan membuka pintu tersebut.
“ serius, bi ? “ tanyanya riang.
“ iya, non “ jawab orang itu.
     Lalu dengan cepat gadis itu menuruni tangga menuju ke ruang tamu untuk menemui orang tuanya.
“ bunda, ayah... “ ucapnya sambil berlari memeluk mereka.
Dengan cepat, mereka pun memeluk anak semata wayangnya itu.
“ Vita kangen sama bunda dan ayah “ rengeknya.
“ kami juga rindu sama kamu, sayang.. “ jawab bundanya sambil mengelus kepala anaknya tersayang.
“ ya udah, kamu mandi dulu ya sayang “ bujuk ayahnya.
“ iya deh, yah “ ucapnya sambil tersenyum.


***

    Empat tahun pun berlalu, kini Vita telah berumur enam belas tahun. Ia mulai mengalami rasanya jatuh cinta dan sakit hati. Tetapi malam itu, ketika Vita tengah asyiknya memainkan boneka beruang ungu dan sejenis monopoli pemberian sang ayah, tiba-tiba terdengar suara jeritan bik Onah, pembantunya.
    “ bik Onah ? “ ucapnya kaget sambil keluar membawa boneka beruang itu.
Ketika ia memasuki ruang dapur, dilihatnya tubuh bik Onah tergeletak tak berdaya di lantai.
“ bik Onah !!!! “ teriaknya shock.
Saat Vita ingin membangunkan bik Onah, dua orang pria bertopeng datang.
“ hahaha, ini anak Brama yang sombong itu ? “ ucap sang pria yang menggunakan topeng berwarna hitam pekat.
“ siapa kalian ? “ jeritnya tertahan.
“ kamu tidak perlu tahu siapa kami, yang kamu perlu tahu adalah ini !!! “
Seketika terdengar suara pistol menggelegar di rumah itu. Dan beruang ungu itu pun menjadi saksi bisu di rumah itu.


***


     “ eh, liburan ini kita mau kemana nih, guys ? “ tanya seorang cewek tomboy sambil memainkan bola basketnya.
“ kemana ya, Vin ? “ tanya balik seorang cowok sambil menggigit pena.
“ eh, gue ada ide nih ! “ cetus seorang cewek dengan perawakan feminim.
“ apaan nih, Rin ? “
“ gimana kalo liburan kali ini kita ke villa bokap gue aja. Bokap gue baru beli villa baru di puncak nih. Kita berangkat hari Minggu pagi dari rumah gue. Gimana ? “ tawarnya.
“ oke deh tapi kasih tau Aji, Tina ama Ren juga ya. Mereka kan gank kita juga ?! “ ucap cowok itu.
“ gini aja, gue ama Ririn ngasih tau Tina sedangkan lo ngasih tau Aji ama Ren. Deal, Ram ? “ cetusnya sambil mengulurkan tangan.
     Sedetik tidak ada reaksi dari cowok bernama Rama itu tetapi akhirnya ia menerima tawaran itu. “ oke, deal ! “ sambutnya.
“ oke kalo gitu,gue cabut dulu ya ama Ririn, kita mau nyari Tina. Yok, Rin... “ ucap Vivin sambil menarik Ririn. Kemudian mereka pun pergi mencari Tina.


***

     Hari Minggu yang dinanti pun datang. Ririn, Rama, Vivin, Aji, dan Tina telah berada di rumah Ririn tetapi salah satu teman mereka belum datang juga.
“ aduh Ren mana sih ? lelet banget jadi anak ! gimana Indonesia mau maju kalo tunas bangsanya aja kayak Ren ?! “ ucap Vivin gelisah.
“ nyantai aja kali, Vin. Paling bentar lagi tuh anak dateng. Kayak nggak tau Ren aja lo ?! “ jawab Aji menenangkan.
“ gimana bisa tenang, Ji ? ini udah hampir jam 9 ! kita bisa telat “ bantah Vivin cepat.
Pada saat Vivin dan Aji tengah berdebat, bik Surni, pemabantu Ririn datang menghampiri mereka.
     “ non, ada den Ren diluar. “
“ suruh langsung masuk aja, bik “ sahut Tina.
“ baik, non “ jawab bik Surni sembari menuju ke pintu depan.
“ silahkan masuk, den. Non Ririn dan yang lain udah nunggu aden di ruang tengah, “ kata bik Surni sambil tersenyum.
“ makasih, bik “ balasnya sambil memasuki rumah Ririn yang bernuansa krem dibalut warna putih itu.
Saat Ren memasuki ruang tengah, tiba-tiba Vivin langsung berdeham.
“ dari mana aja lo ? “ tanyanya sinis.
“ gue kesiangan, Vin “ jawabnya lugu.
“ APA ???? kesiangan kata lo ???? “ ucap Vivin tertahan.
“ udah Vin. Calm down... “ sambar Rama cepat ketika Vivin hendak menampar Ren.
     Suasana tiba-tiba menjadi hening sesaat. Vivin dan Rama saling bertatapan, sejenak terlintas sesuatu dibenak Vivin yang tak ingin ia ingat kembali. Dan dengan kasarnya ia melepaskan pegangan Rama.
“ apaan sih lo, Ram ? gue sebagai leader bertanggung jawab disini ! gue dipilih karena gue tegas ! lo tau kan arti kata tegas ? “ ucapnya kasar.
“ gue tau tapi gak segininya juga, miss leader !? “ jawabnya menantang
“ udah ! kita ini mau berantem atau mau liburan sih ? “ teriak Tina akhirnya.
     Semua pun sontak menoleh kepadanya. Tina selama ini dikenal sebagai orang yang keibuan di gank mereka tiba-tiba berteriak tegas di hadapan mereka semua. Vivin yang tadinya tidak bisa mengongtrol emosi pun kini mulai agak mereda dan begitu juga Rama.
“ gue minta maaf, Ren, Ram. Gue khilaf “ ucap Vivin tertunduk.
it’s okay, Vin “ jawab Rama santai sambil tersenyum manis.
“ iya, Vin, nyantai aja kali... “ balas Ren kemudian.
“ ya berhubung udah maaf-maafan, yok kita pergi ! “ ajak Ririn yang dari tadi tak bersuara.
“ yok ! “ koor semua. Dan mereka pun pergi menuju villa ayah Ririn.


***

     Sore harinya mereka pun sampai di tempat tujuan. Villa milik ayah Ririn yang baru ia beli beberapa bulan yang lalu. Villa itu dipenuhi pepohonan yang rindang dengan bunga-bunga disekitarnya membuat villa itu tampak nyaman.
“ villa bokap lo bagus ya, Rin. Nyaman “ ucap Tina kagum.
Ririn yang mendengar pujian itu pun hanya tersipu malu. Ketika mereka tengah menikmati llingkungan yang ada di sekitar villa, tampak seorang pria yang sudah tua namun tampak gagah mendekati mereka.
“ permisi neng Ririn, “ ucap bapak itu sopan.
“ iya pak Reno. “ jawab Ririn halus.
“  tumben neng kesini ? aya naon, neng ? “ tanya bapak itu.
“ mau liburan, pak “ ucapnya sambil tersenyum.
“ oh, sok atuh, mari... “
“ yuk, guys... “ ajak Ririn kepada yang lain. Dan mereka pun megikuti Ririn dan Pak Reno.


***

     Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di dalam villa. Villa tersebut tampak nyaman untuk ditinggali oleh mereka selama liburan ini. Setelah mengantarkan mereka, Pak Reno segera bergegas meninggalkan mereka dan menuju kebun untuk segera membersihkan halaman kebun. Lau mereka pun beregegas pula memasuki masing-masing kamar yang telah ditunjukkan untuk mereka. Tina, Ririn dan Vivin memasuki kamar di lantai dua dekat tangga sedangkan Aji, Ren dan Rama berada di kamar persis meghadap ruang makan.
     Ketika Ririn sedang asyiknya membereskan kamar, ia menemukan sebuah benda yang sangat ia sukai, boneka !
“ bonekanya lucu banget ! “ ucapnya kagum.
Tina dan Vivin pun terkejut mendengar ucapan Ririn dan mereka pun bergegas melihat boneka itu.
“ Cuma boneka beruang aja kok. Kirain apaan ?! “ sahut Vivin.
“ tapi lucu kan  ? “ tanyanya antusias.
“ he-eh, Rin. Bonekanya lucu deh tapi punya siapa ya ? “ tanya Tina bingung.
“ nggak tau deh tapi yang jelas ini milik gue ! kan ini ada di villa gue ?! ” ucapnya girang.
“ udah ah, pada ngomongin boneka terus ! beres-beres lagi yuk. Keburu malem ntar ?! “ ajak Vivin akhirnya. Dan mereka pun membereskan lagi kamar mereka. Sementara itu di kamar para cowok, Aji menemukan sebuah mainan seperti monopoli.
“ eh bro liat nih apa yang gue temuin ?! “ teriak Aji.
 “ apaan ? “ tanya Ren penasaran.
“ kayak monopoli ?! “ tambah Rama.
“ iya nih, kayak monopolli ?! “ jawab Ren akhirnya.
“ ntar malem kita ajak Tina, Vivin ama Ririn maen ini yok “ ajak Aji.
“ serah deh, gue mau beres-beres lagi “ tukas Rama.


***

     Saat malamnya tiba, mereka pun berkumpul di ruang keluarga sambil bercengkrama bersama. Ren yang dari tadi sibuk memperhatikan Ririn pun berkata, “ boneka baru nih ye ?! “
“ ah, nggak kok. Baru ketemu, hehehe “ ucapnya jahil.
by the way, ngomong-ngomong masalah baru-baruan nih, kita ketemu mainan baru. Kayak monopoli gitu !  kita mainin yok daripada bosen gini “ ajak Aji sambil menunjukkan mainan yang ia temukan tadi.
“ emang gimana aturan mainnya ? “ kata Vivin sambil menarik mainan itu dari tangan Aji.
“ nggak tau deh, coba lihat aja dalemnya. Siapa tau ada aturan mainnya. “ kata Aji menegaskan.
Dan dengan gerakan cepat, Vivin membuka permainan itu dan disitu yang tertulis hanya “ YANG TERAKHIR SELAMAT “ dengan tulisan dari tinta merah semacam darah.
“ hah ? yang terakhir selamat ??? “ kata Vivin bingung.
“ ah, cuma buat nakut-nakutin kali ?! “ Ren menyatakan.
“ mungkin aja. Yuk kita main “ ajak Vivin akhirnya. Dan mereka pun memainkan permainan itu.

***

     “ aduh, gue ke toilet dulu ya “ kata Tina sambil menahan kebelet.
“ iya, buruan gih. Ntar keburu bocor disini lagi ?! “ ucap Vivin bercanda. Lalu Tina pun bergegas menuju ke toilet. Ketika ia telah buang air, ia pun menuju wastafel untuk mencuci tangan tetapi sesuatu muncul dari keran wastafel itu. Darah ! dengan kuatnya ia berteriak hingga membuat anak-anak yang lain bergegas menuju ke toilet.
“ Tin... “ ucap Rama sambil menggedor pintu tetapi tak kunjung ada sahutan dari dalam.
“ kita dobrak aja deh ! “ usul Vivin kepada yang lain. Kemudian dengan sekali dobrakan dari Vivin dan Aji, pintu itupun terbuka. Tampak disitu Tina terbaring dengan keran yang mengucur deras. Dengan gesit Rama pun mematikan keran itu dan kemudian mereka membawa Tina menuju kamar.
    “ Tin, bangun... “ kata mereka menyadarkan tetapi ia tak kunujung sadar juga.
“ aduh, gimana nih ? “ tanya Ririn cemas.
“ Ji, coba lo cari minyak angin deh ?! “ suruh Vivin.
“ gue ada tapi di kamar. “ tawar Ren kepada mereka.
“ ya udah buruan ambil ! “ teriak Vivin. Lau Ren pun bergegas menuju lantai bawah, menuju kamar untuk mengambil minyak angin. Ketika ia sampai di dalam kamar, ia melihat sesosok gadis dengan rambut terurai panjang sedang menatap jendela.
“ hah ? siapa tuh ? “ tanya Ren sendiri sambil mengucek matanya yang tidak gatal. Tetapi ketika ia selesai mengucek matanya, gadis itu telah hilang.
“ hantu ? “ pikirnya sambil berlari meninggalkan kamar itu.
     Gubrakkkk.....
Bunyi pintu yang dibuka Ren secara kasar.
“ apa-apaan sih lo, Ren ? kayak orang baru ngeliat setan aja “ ucap Vivin marah.
“ gu... gu... guuueee barrrrruuuuu ngeliat setan, Vin ?! “ katanya gugup.
“ serius lo ? “ tanya Aji dan Ririn secara bersamaan.
“ gue serius... dua rius malah...! “
“ ah, paling khalusinasi lo doang, Ren ?! “ ujar Rama menenangkan.
“ aduh, lo tuh jangan pada ngomongi hantu deh ! yang penting sekarang nih gimana buat Tina sadar ! mana Ren minyak anginnya ? “ ucap Vivin kesal. Lalu Ren memberikan minyak angin itu kepada Vivin. Setelah beberapa saat, Tina pun akhirnya siuman juga. Akan tetapi ia malah langsung berteriak histeris.
“ Tin, lo kenapa sih ? “ guncang Vivin.
“ gue tadi ngeliat darah dari wastafel “ isaknya tertahan.
“ darah ? “ ucap mereka secara bersamaan.
“ perasaan waktu gue matiin tuh keran, nggak ada apa-apa apalagi darah “ Rama menambahkan.
“ tapi gue dengan mata kepala gue sendiri ! “ ucanya sambil menangis, “ pokoknya gue nggak mau tinggal lagi disini ! gue mau pulangggggggggg............. “ tambahnya.
     Sejenak suasana terasa hening dan saat keheningan itu, terdengar suara rintihan seseorang, lebih tepatnya rintihan seorang cewek. Dan secara bersamaan suasana menjadi sangat mencekam, mereka semua nampak menegang. Dan saat mereka terdiam, tiba-tiba terdengar suara pistol. Dan semua pun menjadi sunyi.


***

     Ketika pagi tiba, suasana villa terasa sangat sunyi setelah bunyi pistol semalam. Semua berpikir siapa yang telah menembak dan siapa yang menjadi target. Tetapi semua tak mendapat jawabannya sampai akhirnya Vivin ingin menyelidikinya tetapi rupanya ia tak sendirian. Rama dan Aji tengah membuntutinya. Saat Vivin berjalan ke belakang villa, ia melihat rumah kecil nan asri yang sangat terawat. Pasti ini rumah pak Reno, pikirnya dalam hati.kemudian ia pun berjalan menuju rumah itu.
“ permisi... “ ucap Vivin sopan. Tetapi tak ada seorang pun yang kunjung menyahut. Akhirnya ia mencoba lagi hingga beberapa kali. Pada saat ia telah menyerah dan memutuskan untuk kembali ke villa, sesosok tangan menyentuh pundaknya. Dag, dig, dug.. bunyi jantungnya. Dengan perasaan gugup, ia menolehkan kepalanya ke belakang, rupanya sesosok tangan itu milik Pak Reno.
“ eh pak Reno ngagetin aja “ ucapnya lega.
“ ada apa neng datang kesini ? “ tanya Pak Reno penasaran.
Vivin pun menoleh ke kiri dan kanan untuk mengetahui situasi aman atau tidak dan berkata “ begini pak, saya ingin bertanya, apa benar villa ini berhantu ? “
Pak Reno yang mendengar itu pun langsung memucat seolah mengingatkannya pada sesuatu.
“ ada apa emang neng ? “ tanyanya seolah-olah tidak tahu.
“ begini pak, semalam kami seperti di terror oleh sesosok makhluk halus. Dia mengganggu kami, pak. Sosok itu seorang anak seusia kami. Siapa itu, pak ? apakah dia pemiilik rumah ini ? “ ujarnya kepada Pak Reno.
“ berarti ia mengganggu lagi, neng. “ ucap Pak Reno tak sengaja.
“ dia ? “ tanya Vivin bingung.
     “ Dia non Vita, pemilik pertama villa ini. Ini sebenarnya sebuah rumah, neng, bukan villa. Non Vita orang yang baik tetapi ia hanya tinggal bersama saya dan bik Onah tetapi hari itu non Vita terbunuh oleh perampok yang ingin merampok rumahnya. Mendengar kabar itu, orang tua non Vita sangat terpukul dan akhirnya menjual tempat ini ke orang lain tapi siapa yang menetapi rumah ini selalu diganggu oleh non Vita. Dan setahu saya, ketika semasa hidup non Vita, ia mempunyai boneka beruang ungu dan sebuah mainan yang saya simpan di tempat yang berlainan. Kedua benda itu selalu memakan korban, dan satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini adalah memainkan permainan itu sampai habis. Karena itulah wasiat terakhir dari non Vita itu sendiri. “ ujar Pak Reno sedih.
“ boneka beruang ? mainan ? “ tanya Vivin tak percaya.
“ emang ada apa, neng ? “ tanya Pak Reno balik.
“ nggak ada apa-apa, pak. Makasih ya pak “ ucapnya sambil berlari menuju villa.


***

     Ketika malam tiba, Vivin mengajak seluruh anak-anak yang lain untuk memainkan itu akan tetapi semua menolak. Dan dengan usaha yang cukup menguras tenaga, akhirnya mereka pun mengiyakan keinginan sang leader.
     Mereka semua berkumpul di ruang keluarga dengan suasana yang tegang. Lalu mereka memainkan permainan itu yang diawali dari Rama. Saat di tengah-tengah permainan, terdengar suara tangisan seorang cewek. Sontak mereka semua terlihat pucat dan dengan sekali gerakan siluet, sesosok cewek dengan tubuh dibalut darah tengah memegang kapak yang diarahkan ke leher Aji.
“ to... tolong gue, guys ?! “ katanya memohon. Tetapi semua terdiam. Ririn, Tina dan Ren ingin membantu tetapi apa daya, Vivin memberi tanda untuk tidak mendekat.
“ Vin, dia temen kita ! lo harus nyadar !!!! “ teriak Ren pada Vivin tetapi Vivin hanya menjawab, “ resiko, Ren ! “
Aji terus memohon kepada mereka tetapi semua tak bisa membantu hingga akhirnya terdengar jerit rintihan Aji yang menggelegar dan cewek itu pun menghilang, meninggalkan Aji yang telah berlumuran darah.
“ lo gila ya, Vin ! temen macem apa lo, hah ? “ teriak Ren marah.
“ ini resiko, Ren ! Cuma ini cara satu-satunya untuk mengakhiri ini semua ! “ Vivin menegaskan.
“ tapi nggak gini juga kali, Vin ! lo egois ! lo mentingin diri lo sendiri ! lo nggak tau diri ! “ umpatnya kesal.
“ CUKUP ! “ teriak Tina dan Ririn secara bersamaan. Sejenak peretengkaran diantara Ren dan Vivin pun terhenti dan Rama pun angkat bicara.
“ Vivin benar. Cuma ini cara satu-satunya untuk menghentikan semua masalah ini, gue denger sendiri dari obrolan dia dengan pak Reno. ”
“ apa ? jadi lo nguping, Ram ? “ tanya Vivin emosi.
“ sorry, gue takut ada apa-apa sama lo. Gue khawatir. “ ungkap Rama kepadanya.
“ khawatir ? gue bukan anak kecil lagi, Ram ! terus apa maksud lo gitu, hah ? sok-sok khawatir nggak jelas kayak gitu. Maksud lo apa ? “
“ karena gue sayang sama lo, Vin ! gue nggak mau kehilangan lo ! puas lo ! “ jawab Rama kesal dan membuat Vivin terdiam.
     “ udah deh, mending kita lanjutin permainan ini apapun resikonya ! “ Ririn menegaskan. Lalu mereka pun melanjutkan permainan itu. Dan ketika mereka memainkan permainan itu kembali, terdengar suara tembakan yang cukup keras. Dan pada saat itu juga Tina menjerit histeris, melihat tubuh Ririn yang berdarah terkena tembakan.
“ Ririn !!!!!!! “ teriaknya sambil mendekati tubuh Ririn yang terkulai lemas.
“ lan...jut...in... hhh... per...main..an... hhh... in..ih...” ucapnya untuk terakhir kalinya.
“ Ririn, bangun, Rin.. “ ucap Ren sambil mengguncang tubuh Ririn tetapi ia sudah tiada. Ren yang telah habis kesabaran akhirnya mengambil permainan itu dan boneka beruang ungu itu lal melumurinya dengan minyak tanah seperti orang yang kesetanan.
“ habis sudah semua ini ! “ ucapnya sambil melempar korek api ke arah benda-benda yang membuatnya kehilangan kedua teman baiknya.
“ Ren, jangan !!!! “ teriak Vivin tetapi semua itu terlambat. Dan terdengar suara tangisan seseorang. Tak lama dari situ, Ren dan Tina telah tersungkur ke lantai dengan pisau di dadanya.
     Saat pisau itu terarah ke Vivin, Rama segera menghalau dan pisau itu pun menancap ke dadanya. Sontak Vivin pun langsung memapah Rama dan membaringkannya ke pangkuannya.
“ Ram, jangan pergi... “ isak Vivin akhirnya tetapi Rama hanya tersenyum dan berkata “ gue.. hhh... sayanghh... elohhh.... “
“ gue juga sayang lo, Ram... “ jawab Vivin. Dan sedetik kemudian Rama pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“ Rama !!!!!!!! “ teriaknya histeris.
“ daripada semua ini nggak akan berakhir, lebih baik gue ikut kalian ! “ ucap Vivin kesetanan sambil mencabut pisau dari dada Rama dan menancapkan pisau itu ke dadanya.

Senin, 13 Februari 2012

Cerbung : Satu Senyuman untuk Cinta (8)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:58 0 komentar
Edo yang mendengar cerita itu hanya bisa terpekur membisu, seolah tak percaya bahwa kenyataan pahit telak menampar wajahnya. dengan getir pahit akhirnya Edo angkat bicara.
" anterin aku kesitu, Ka ! aku mohon ! " lalu air matapun mengalir lembut di wajah Edo.
Rinka yang melihat ekspresi itu sontak terdiam sejenak hingga ia pun mengangguk pasrah. sesaat Rinka melihat sikap Edo yang seketika pucat namun mencoba menutupinya dengan ketenangan yang tak baik.
" yakin mau ngejenguk dia ? " Rinka meyakinkan sosok yang tengah duduk dihadapannya.
" aku yakin, Ka ! " angguk Edo pasrah namun berusaha meyakinkan.
" nanti aja ya, Do. belum saatnya " elak Rinka.
" kenapa ? " kegelisahan mulai tampak di wajah Edo.
" dia belum siuman " tegas Rinka akhirnya.
" jadi ? " Edo menunggu kepastian.
" tunggu aja kabar dari aku ya. " jawab Rinka kemudian melihat arloji yang melingkar manis di tangannya. " duluan ya, ada urusan "
dengan sekali gerakan, Rinka berdiri dan berbalik badan meninggalkan sosok Edo sendirian meratapi penyesalan yang amat dalam di dirinya.


***


konflik batin mulai menguasai jiwa Edo. ia hanya bisa menyalahkan dirinya saat ini. di dalam mobil yang ia kendarai, berulang kali hampir menabrak para pengguna jalan yang tengah berada di dekatnya. konsentrasi buyar ! itulah yang sekarang Edo rasakan. entah kemana ia membawa mobilnya hingga sampai di satu tempat yang begitu asri. dipenuhi bunga mawar dan pepohonan yang rindang. tanpa sadar ia membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju bangku berwarna putih yang tak asing lagi baginya.
terduduk diam ! hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. seribu makian untuk dirinya sendiri mulai berdatangan dari batinnya. dan akhirnya ia menyerah. bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. harus ia akui, ia begitu menyesal setelah mendengar semua penjelasan dari Rinka. ia seolah tak percaya namun akhirnya ia merasa terjawab sudah pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya. ini alasan Cinta dulu menjauhiku ? membuat sosok itu kembali hadir ke hidupku dan kemudian dengan kejinya aku meninggalkan Cinta demi sosok itu ? bodohnya aku !  Tuhan, bagaimana caraku untuk membahagiakannya ? sementara aku harus menikah nantinya !  kenapa harus Cinta ? kenapa !!!... ucap Edo dalam hati. dan setelah ia menyesali semua yang telah terjadi, ia mulai terpikir sesuatu. ya, dia harus membahagiakan Cinta apapun caranya ! disekanya air mata yang membasahi pipinya lalu ia pun memandangi tempat yang ia kunjungi itu.
" masih sama seperti dulu " ucapnya sambil tersenyum pahit. dilihatnya mawar-mawar yang berada disitu lalu didekatinya tangkai-tangkai mawar itu ! diingatnya Cinta yang selalu menyukai mawar. bagi Cinta, mawar adalah bunga yang cantik namun menyimpan sejuta misteri karena mawar mempunyai duri untuk melindungi diri dan semua rahasia yang ada pada dirinya. dan seketika, Edo pun tersadar lalu berlari menghampiri mobilnya lalu segera menstarter mobilnya menuju tempat spesial yang tadi terbesit di pikirannya.


***


nuansa tempat yang begitu asri itu begitu membius siapapun yang memasukinya. harum bunga mulai tercium di ruangan. masih sama ! tanggapan itulah yang keluar dari otak sosok yang memasuki ruangan itu. langkahnya mulai mengajak raganya memutari tempat itu mencari sesuatu yang dari tadi diincarnya. gotcha ! ditemukan benda itu. diambilnya benda itu beberapa tangkai dan berjalan mendekati pemilik tempat itu.
" bu, mawar putihnya tolong dibuat bucket ya. " ucapnya sambil tersenyum.
sang pemilik tempat itu langsung mengangguk dan melakukan tugasnya. beberapa menit kemudian, tangkai-tangkai itu telah terususun manis di dalam satu bungkusan.
" terima kasih, Bu " tersenyum lalu memberikan sejumlah uang pada pemilik tempat itu. dengan cepat, sosok itu pergi meninggalkan tempat itu menuju satu tempat yang menjadi tujuan utamanya.

Jumat, 03 Februari 2012

Cerbung : Satu Senyuman untuk Cinta (7)

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 20:55 0 komentar
dengan sigapnya Rinka berlari menuju ruangan yang telah disebutkan tadi, dan ketika ia menemukan kamar tempat dimana Cinta terlelap, kaki Rinka begitu lemas seakan tak kuat akan menghadapi kenyataan yang ada. perlahan namun pasti, Rinka mulai mendekati kamar itu, krieett.. Rinka terpekur melihat sosok yang tak ia kenali lagi.
itu Cinta ? ya Tuhan, apa yang terjadi dengannya !!! teriak batin Rinka.
seakan dunia berputar, Rinka masih tidak percaya akan sosok yang ada di depan matanya kini, perlahan ia menelan air liurnya sendiri dan angkat bicara.
" Cinta.... " ucap Rinka tertahan namun tidak ada tanggapan sedikit pun dari Cinta.
tak lama kemudian, bulir-bulir air mata jatuh perlahan membasahi wajah mulus Rinka itu. penyesalan, itulah yang dialami Rinka sekarang. ia pun menangis terisak-isak meluapkan semua penyesalan yang ada tetapi ketika ia menyesali semua yang ada, muncul satu tekad dalam dirinya. dia harus menceritakan semua yang ada pada kekasih lama Cinta ! agar semua menjadi jelas !
dan sekali usapan, ia menghapus air mata pada kedua pipinya.
" tunggu ya Cin, aku pasti mempertemukan kamu sama dia ! aku janji ! " janjinya pada Cinta yang terbaring koma.

keesokan harinya...
alunan lagu berdering di handphone bergaya modern itu, dan dengan sekali tekan tombol, telepon itu pun terjawab.
" bisa ketemuan ? ada yang mau aku jelasin ke kamu ! " ucap sang penelepon singkat.
" emm, tapi aku sibuk. gimana ? " tanya sang penjawab dengan ragu.
" aku mohon, ini tentang seseorang  ! dan kamu tau itu siapa ! "
" hm, oke jam berapa ? "
" jam 4, di tempat biasa. masih inget kan ? " tanyanya memastikan.
" iya inget. "
" oke, aku tunggu. bye "
lalu seketika  percakapan itupun terputus.
tepat pukul 4, seseorang tengah duduk gelisah menanti kehadiran sosok yang ia nantikan. berulang kali ia memelototi jam tangan yang melingkar manis di tangannya.
ayo dong, cepetaaannnn !!!! gerutu batin orang itu.
dan sekitar pukul 4.15, sosok itu pun hadir. ia mulai memasuki tempat itu sambil memperhatikan keadaan sekitar, mencari-cari sosok yang meneleponnya tadi. kemudian, gotcha !  ia menemukan sosok itu, melambaikan tangan lalu segera berlari kecil menghampiri orang yang telah lama menantinya.
" maaf aku telat " ucapnya menyesal.
" no problem, duduk gih ! " balasnya ramah.
" kenapa kamu, Ka ? mau ngomongin apa sama aku ? " tanya sosok itu pada gadis yang tengah duduk manis di depannya.
" aku mau cerita tentang Cinta, Do. " balasnya kemudian.
seketika sosok yang datang tadi langsung tertegun ketika mendengar nama yang tak pernah ia ingat lagi atau tepatnya ia mencoba melupakannya. ya, Edo telah lama mencoba melupakan sosok yang selalu hadir di benaknya itu.
" kenapa dengan dia, Ka ? " tanyanya cemas akhirnya.
" gini Do, sebenernya......." cerita Rinka panjang lebar pada Edo hingga Edo tak dapat berucap apa-apa lagi !

 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos