" gimana keadaannya ? " desak Edo dengan perasaan tak menentu.
" kritis " dalam kelirihan yang mendalam.
terhenyak mendengar kabar itu, Edo langsung terdiam membisu membayangkan sesuatu yang telah terjadi di depannya kini. kini hanya ia bisa terduduk di kursi dan memohon kepada Tuhan bahwa semua akan baik-baik saja nantinya. dan ketika Edo tengah asyik berdoa dalam hatinya, pintu ruangan terbuka. dilihatnya sang dokter keluar dari ruangan itu namun aliran darahnya terhenti saat melihat sosok dokter yang kini ada di depan matanya.
dalam kebingungan, sang dokter bertanya kepada Edo, " kok kamu disini sayang ? "
Rinka yang mendengar sang dokter berkata seperti itu langsung tersentak kaget seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. ia mengulang perkataan yang dikatakan sang dokter.
" kok kamu disini sayang ? hah ? Do, sebenernya dokter ini siapanya kamu ? jawab, Do ! jawab ! " desak Rinka dalam situasi genting ini.
" maaf anda ini siapa ya ? " dokter itu bertanya seakan tak mengerti situasi yang ada.
" saya temen dia, dok. temen pasien yang ada di dalam ruangan itu juga, dok ! dan dia ini orang yang paling berharga bagi pasien yang di dalam ruangan itu ! mereka ini dulunya sepasang kekasih, dok ! " jelas Rinka kemudian.
sang dokter yang mendegar penjelasan itu kemudian terdiam namun pada akhirnya ia angkat bicara.
" sayang... " nada lembut penuh kasih sayang yang getir ditujukan kepada Edo.
Edo hanya bisa mendongak ke arah sang dokter itu. setelah waktu yang cukup lama, akhirnya Edo pun angkat bicara.
" Ka, perkenalin. dokter ini calon istriku. dia Niza. " nada lirih mulai terasa di setiap kata-kata yang diucapkannya.
Rinka yang tak menyangka semua itu mendadak berubah pucat pasi.
" di..a.. cal..lon.. is..tri.. ka..mu..? " napas Rinka tercekat.
" iya, Ka. " sesal mulai menjalari seluruh tubuh Edo.
sang dokter yang ternyata adalah Niza, calon istri Edo akhirnya mengerti semua keadaan yang ada. perlahan, ia mulai menguatkan hatinya atas kenyataan yang hadir di hidupnya barusan. lambat laun ia mulai tersenyum kepada Rinka dan Edo yang terselimut dalam situasi buruk. saat Niza mulai ingin angkat bicara, salah satu suster yang awalnya berada di dalam tiba-tiba mendadak keluar dengan guratan wajah cemas.
" Dok, pasien dalam keadaan kritis !!! " suster itu memperingatkan. sontak, mereka bertiga yang dari tadi tenggelam dalam pembicaraan singkat itu mulai merasakan cemas yang besar.
" aku pasti nemuin dia dengan kamu, sayang ! aku janji ! " lalu Niza berlari ke dalam ruangan tempat Cinta terbaring kritis. harap-harap cemas mulai mengitari atmosfer di koridor itu. Tuhan, selamatkan Cinta.. aku mohon Tuhan.. ucap Edo lirih dalam hati. saat tengah dalam suasana berharap, suster lain memanggil Edo untuk masuk ke dalam.
" saudara Edo silahkan masuk ke dalam ! "
Edo pun melihat ke arah Rinka, dalam satu isyarat Rinka meyakinkan Edo. dalam perasaan tak menentu Edo pun memasuki ruangan itu.
***
hujan rintik-rintik mulai membasahi tempat itu. bau tanah basah mulai tercium di area itu. sebuah nisan manis telah tertancap di tanah basah itu bertuliskan nama seseorang yang telah tenang di alam surga sana menanti mereka yang masih hidup kini. sekarang, nama itu akan hanya dikenang bersama semua memori yang ada. Racinta Lomuri kini telah terbaring tenang dibalik tanah yang menutupinya.
saat semua pelayat telah meninggalkan tempat pemakaman itu, masih duduk terpekur semua dari mereka akan kenyataan yang ada. ya, disanalah Rinka, Edo, Kedua orang tua Cinta menatap ke arah gundukan tanah yang telah menyimpan jasad Cinta. penyesalan mulai menghampiri mereka semua terutama Edo.
saat kedua orang tua Cinta akan beranjak pergi, mereka berpamitan dengan Rinka dan Edo yang masih ada disana lalu mereka pun meninggalkan Rinka dan Edo yang masih dibalut rasa kehilangan yang mendalam.
" Do, ini dari Cinta " ucap Rinka sambil memberikan sepucuk surat dalam amplop. Edo menatap Rinka bingung seakan bertanya bagaimana bisa ini terjadi ! namun ia tetap mengambil pucuk surat itu dan membukanya.
" dia buat surat itu waktu dia sadar dari koma, kira-kira seminggu yang lalu " jelas Rinka kemudian namun tak digubris oleh Edo. perlahan membaca isi surat itu.
***
dear Edo
hei kamu apa kabar ? aku harap kamu baik-baik aja disitu ya. mungkoin kamu lagi baca surat ini setelah aku gak ada lagi di dunia ini. oh iya, selamat ya atas pernikahanmu dengan dokter Niza. maaf aku udah bawa Niza kembali ke hidup kamu. aku sengaja ngelakuin itu semua karena aku tahu, aku gak akan bisa ngebahagiain kamu nantinya. sejujurnya aku gak rela tapi ini harus aku lakuin demi kebahagiaan kamu dan Niza. Niza itu sangat menyayangi kamu, Do. jagain dia ya Do demi aku. sayangi dia seperti dulu kamu nyayangin aku bahkan harus lebih ! aku gak mau dia kenapa-kenapa, Do ! mungkin ini terakhir kalinya aku mengutarakan isi hati aku sama kamu ya ? soalnya kita udah terpisah jauh sekarang antara ruang dan waktu yang tak terhingga. maafin aku udah nyiain kamu selama ini. kamu yang terbaik dari yang lainnya, Do. aku terlalu menyayangi kamu sampe aku gak pernah mikirin diri aku sendiri. tapi setidaknya aku sekarang tersenyum di surga karena melihat kamu telah bersama dengan Niza. jangan sakiti dia ya, Do. aku mohon...
apapun yang membuatmu tersenyum akan selalu menjadi sebuah senyuman bagiku, Do. I LOVE YOU !
salam sayang dan rindu
Racinta Lomuri :))
***
setelah selesai membaca surat itu, secara tak sadar Edo pun meneteskan air matanya. " maafin aku, Cin " getir itu terasa ketika Edo mengucapkannya.
" ayo pulang " ajak Niza yang tiba-tiba muncul dan menaungi tubuh Edo dengan payung hitam. Edo yang teringat akan kata-kata di surat itu akhirnya mulai tersenyum dan mengangguk. Rinka yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir.
" kamu bener-bener yang terbaik Cinta " ucap Rinka lirih ke arah nisan itu lalu ia pun beranjak pergi. " aku duluan ya " kemudian meninggalkan Edo dan Niza.
" yok pulang " ajak Edo pada Niza. Niza yang mendengarkan itu hanya tersenyum kemudian mereka melangkahkan kakinya meninggalkan makam itu. namun saat langkah mereka tak terlalu jauh dari makam Cinta, desir angin yang aneh melewati Edo. terhenyak, Edo pun menoleh ke arah belakang dan ia melihat sosok Cinta tengah berdiri sambil tersenyum padanya. senyum yang begitu bahagia, senyum yang tak pernah ia lihat dari wajah Cinta sebelumnya. begitu manis dan tulus. Edo membalas senyuman itu dengan tulus pula lalu akhirnya sosok Cinta itu pun kemudian perlahan menghilang ditelan angin yang menyejukkan.
aku akan selalu membahagiakan Niza, karena kebahagiaan Niza adalah satu senyuman untuk Cinta di surga ! .. ucap Edo dalam hati. ya, satu senyuman untuk Cinta adalah kebahagiaan Edo disini juga !
T A M A T

0 komentar:
Posting Komentar