Senin, 10 Oktober 2011

Tak Berkisah

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 22:00 0 komentar

Tuhan, jika aku tak pernah menjaganya
satu pintaku, jaga dia dalam dekapan-Mu
Tuhan, jika suatu hari nanti aku tak kembali
satu pintaku, hiburlah dia dalam keindahan-MU

kini jalan tlah berbeda jauh
kau dan aku terpisah oleh jarak dan waktu
namun satu pintaku kini untukmu
jadilah bintang bagi seseorang yang tulus bagimu

takkan pernah Tuhan mendustai jika memang kau bahagia
takkan pernah Tuhan mendustai jika memang kita berbeda
mungkin inilah jawab dari semua tanyaku dahulu
pada rumput yang bergoyang diam membisu

andaipun semua terulang kembali
takkan mungkin seindah dahulu
karna aku berdiri disini hanya tersenyum
mencoba menjadi pengiring kisah hidupmu saja

Sabtu, 08 Oktober 2011

Penantian Sang Melati, scene 4

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:19 0 komentar
siang harinya, ketika matahari menyinari dunia dengan cahaya kebahagiaan tak membuat kebahagiaan itu didapatkan seseorang yang tengah termenung sendirian di koridor.
lambat laun ia berkhayal dalam impian kecilnya yang membuatnya sejenak melupakan kegalauannya.
saat ia sedang asyiknya berkhayal, dengan sigatnya Devin mengejutkannya.
duaarrr....
" ngelamunin apa hayo, mas ? " tanyanya jahil.
" gak ngelamunin apa-apa, dek. " jawabnya singkat sambil tersenyum pada Devin.
" ih pasti ngelamunin yang gituan kan ? astaghfirullah, insyaf mas ! " ucapnya sambil mengelus dadanya.
" eh enak aja ! dasar ceplas-ceplos ! " balasnya kaget sambil menjitak kepala Devin.
" haha, mas Rio, mas Rio hahah "
" ih kamu ini ya dek, bikin mas gemes deh ! " cubitnya kemudian.
" aw, sakit tau ! " ucapnya sambil mengelus pipinya.
" makanya jangan gitu lagi ya ? " tanyanya sambil tersenyum tulus.
sejenak Devin terdiam namun segera ia balas dengan anggukan penuh senyum yang  tulus.
" udah yok, mas anterin kamu pulang. " ajak Rio kemudian.
" hehe beneran nih mas ? " tanyanya penuh antusias.
" beneran kok adekku "
dan mereka pun pergi ke palataran parkir lalu pergi meninggalkan sekolah.

***
saat di rumah...

alunan musik terdengar menggema di dalam kamar yang berhiaskan nuansa biru itu.
sejenak, terdengar helaan nafas yang tak biasanya. seolah ingin melepaskan beban yang ada namun tak pernah tersampaikan.
ya, Devin yang saat itu takkan pernah mengaku akan satu hal yang harus ia diam-diam memendamnya dalam canda-tawa penuh kebahagiaan.
kapan ya semua ini berakhir ? aku udah capek ngadepin ini semua ! capek banget ! , pikirnya sambil memandangi langit-langit rumah.
namun seolah waktu tak mengijinkannya untuk pergi, ia pun memikirkan satu hal yang pasti terjadi.
dan kemudian buliran air mata kesedihan membasahi pipinya seolah mengatakan bahwa Tuhan itu tak adil baginya.

Penantian Sang Melati, scene 4

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:16 0 komentar
siang harinya, ketika matahari menyinari dunia dengan cahaya kebahagiaan tak membuat kebahagiaan itu didapatkan seseorang yang tengah termenung sendirian di koridor.
lambat laun ia berkhayal dalam impian kecilnya yang membuatnya sejenak melupakan kegalauannya.
saat ia sedang asyiknya berkhayal, dengan sigatnya Devin mengejutkannya.
duaarrr....
" ngelamunin apa hayo, mas ? " tanyanya jahil.
" gak ngelamunin apa-apa, dek. " jawabnya singkat sambil tersenyum pada Devin.
" ih pasti ngelamunin yang gituan kan ? astaghfirullah, insyaf mas ! " ucapnya sambil mengelus dadanya.
" eh enak aja ! dasar ceplas-ceplos ! " balasnya kaget sambil menjitak kepala Devin.
" haha, mas Rio, mas Rio hahah "
" ih kamu ini ya dek, bikin mas gemes deh ! " cubitnya kemudian.
" aw, sakit tau ! " ucapnya sambil mengelus pipinya.
" makanya jangan gitu lagi ya ? " tanyanya sambil tersenyum tulus.
sejenak Devin terdiam namun segera ia balas dengan anggukan penuh senyum yang  tulus.
" udah yok, mas anterin kamu pulang. " ajak Rio kemudian.
" hehe beneran nih mas ? " tanyanya penuh antusias.
" beneran kok adekku "
dan mereka pun pergi ke palataran parkir lalu pergi meninggalkan sekolah.

***
saat di rumah...

alunan musik terdengar menggema di dalam kamar yang berhiaskan nuansa biru itu.
sejenak, terdengar helaan nafas yang tak biasanya. seolah ingin melepaskan beban yang ada namun tak pernah tersampaikan.
ya, Devin yang saat itu takkan pernah mengaku akan satu hal yang harus ia diam-diam memendamnya dalam canda-tawa penuh kebahagiaan.
kapan ya semua ini berakhir ? aku udah capek ngadepin ini semua ! capek banget ! , pikirnya sambil memandangi langit-langit rumah.
namun seolah waktu tak mengijinkannya untuk pergi, ia pun memikirkan satu hal yang pasti terjadi.
buliran air mata kesedihan membasahi pipinya seolah mengatakan bahwa Tuhan itu tak adil baginya.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Penantian Sang Melati, scene 3

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 19:56 0 komentar
keesokan harinya, Devin kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa di sekolah namun tanpa ia sadari, seseorang tengah memperhatikannya dalam segurat senyum ketulusan penuh harapan.
saat Devin tengah asyiknya mendengar lagu, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.
sontak, ia pun langsung menoleh ke sumber suara dan ternyata itu adalah Desban !
betapa terkejutnya Devin melihat sosok itu.
ngapain nih anak tiba-tiba manggil ? pikirnya dalam hati namun setelah beberapa saat, ia pun tersenyum dan mulai mengakrabkan diri pada suasana yang ada.
dan lagi-lagi tanpa Devin sadari, seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan.
getir  terasa dalam kehampaan sosok tersebut ketika melihat Devin tengah asyik bercanda dengan Desban.
ya, inilah hidup yang harus aku jalani. melihat Devin bahagia dengan pilihannya meskipun sejujurnya aku tak ingin ia jatuh ke tangan orang lain, pikir sosok tersebut lalu ia pun berlalu meninggalkan Devin dan Desban dalam canda-tawa penuh keakraban.
***

Selasa, 27 September 2011

Letih

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 20:08 1 komentar

dalam langkah letih bediri menyongsong
panas membakar jiwa seolah tak terhiraukan
heningnya panggung seolah menjadi irama kebencian
terpuruk dalam kerapuhan seakan takkan ada harapan

terseot-seot langkah letih dalam fana dunia
mencari setitik cahaya dalam lilin kehidupan
dingin menusuk rusuk seolah tak berarti
sejenak terdiam membisu menatap sependar cahaya

akankah semua kini berakhir ?
adakah sebuah manisnya madu kehidupan ?
untuk dirinya yang ada disana
untuk dirinya yang terpuruk dalam kebencian

letih...

seolah semua takkan ada habisnya
bak batu panas berjatuhan
silih berganti menghantam diri
seolah tak perduli keadaan kini

letih...

sungguh letih menjalani kini
padam sudah api membara dahulu
ingin pergi tinggalkan semua
seolah disana bahagia jika ia tak ada

letih...

takkan pernah habis tetesan mutiara kini
menjatuhkan diri dalam tumpukan batu kecil
ingin pergi tinggalkan semua
seolah disana bahagia jika ia tak ada

Rabu, 31 Agustus 2011

Aku dan Cahaya

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 15:59 0 komentar
Dalam satu langkah tak menentu
Aku berjalan mencari cahaya
Dalam gelapnya malam itu
Tanpa sang rembulan menghias angkasa

Aku berjalan pasti menelusurinya
Diiringi lolongan anjing yang kesepian
Rasakan dinginnya desiran angin
Menusuk tubuh rapuh kini

Berjalan dan berjalan terus
Tak menentu arah dalam kegamangan
Hingga aku menemukan setitik cahaya
Cahaya nan terang dalam kehangatan

Mendekat dan terus aku mendekatinya
Aku takut namun aku ingin rasakan kehangatan
Silaunya hingga membuatku takjub padanya
Terasa nyaman hingga satu cahaya mendekat

Aku merasa terlindung dalam kehangatan
Namun kepastian menungguku kini
Tak mungkin aku berlindung kembali
Haruskah ku putuskan 'tuk pergi ?

Sungguh hati berat meninggalkan mereka
Namun tubuh rapuh kini memaksa
Aku hanya ingin satu kebahagiaan
Dua cahaya hangat bersatu dalam dinginnya malam

Dan suatu hari 'kan kutemui kembali mereka
Dalam wujud berbeda
Dalam senyuman bahagia melihat mereka
Dalam sosok tembus cahaya bersayapkan putih bersih

Selasa, 30 Agustus 2011

Penantian Sang Melati, scene 2

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 15:12 0 komentar
Hari itu Devin hanya termangu dibawah pohon, ia membayangkan pertemuannya tadi pagi dengan Desban di sekolah barunya itu.
sosok pria penuh kharismatik yang ia yakini banyak pengagumnya. awalnya ia merasakan sebuah desiran aneh kala ia mengingat senyuman dari sosok itu.
namun saat ia tengah melamun, ada yang mengejutkannya.
duarrr...
" hayo, ngapain ngelamun sendirian ? ntar kesambet loh "
" aduh mas ini, ngagetin aku aja. gak boleh ya, mas ? "
" gak boleh dong " ucapnya sambil tertawa
" mas, aku lagi suka seseorang nih. "
" siapa ? " jawabnya sigat sambil merasakan desiran aneh didadanya.
" hehe mau tau aja deh mas. nunggu kami udah deket bener ya, baru aku ceritain sama mas. oke ? "
" hm, oke deh tapi janji ya ? "
" iya, janji deh "

Minggu, 28 Agustus 2011

Penantian Sang Melati, scene 1

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 22:39 0 komentar

berdiri dalam hening sejenak, menarik nafas dalam-dalam seolah ia tak siap dengan kehidupannya yang baru.
perlahan-lahan ia langkahkan kakinya menuju koridor itu. gugup, ya hanya itu yang dapat ia rasakan sekarang namun ia tetap melangkah maju hingga tiba-tiba...
bruukkk...
ia menabrak seseorang !
sejenak ia tak ingin melihat sosok yang ia tabrak namun entah mengapa kepalanya memaksanya untuk mendongak dan melihat sosok itu. dan dalam satu kali tatapan, ia pun terdiam.
dalam hitungan detik, tak ada satupun reaksi dari masing-masing untuk mengeluarkan kata-kata. hening, itulah suasana yang terjadi diantara mereka hingga sosok itupun angkat bicara dan berkata, " sorry ya, gue gak sengaja "
ia yang nampak masih bingung hanya terbengong melihat sosok itu ketika berkata-kata namun dalam sekejap sosok itu berkata sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajahnya lalu berkata, " kamu gak apa-apa kan ? "
seolah ada yang menyadarkannya, ia pun terbangun dari lamunannya yang panjang tadi dan sontak langsung menjawab, " eh iya, gak apa-apa kok. lagian itu salah aku juga yang gak merhatiin jalan "
sosok yang menjadi pusat perhatiannya tadi langsung tersenyum. penuh pesona !
hanya dua kata itu yang dapat ia simpulkan dari sosok tersebut.
dan akhirnya sosok itu pun angkat bicara kembali, " oke, berhubung kamu gak apa-apa, aku duluan ya. oh iya, kenalin nih nama aku desban. kalo kamu ? "
dengan sigap ia pun menjawab, " aku devin "
" oh devin, salam kenal ya ", ucapnya sambil tersenyum lagi.
" iya, salam kenal juga ", jawabnya singkat.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Jika Suatu Hari Aku Takkan Pernah Disampingmu Lagi

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:28 0 komentar
aku mungkin berdiri sendiri disini
menatap matahari menunggu datangnya pelangi
disaat kapas putih takkan ada lagi
aku kan menjadi bayangnya yang hilang

takkan pernah aku menjadi seperti dulu
memberikan senyumku padamu kembali
aku mengerti aku kan kembali
menghadap-Nya dengan senyum tulusku

aku kini berperang melawan kematian
dalam hening yang takkan bungkam
aku akan menatapmu dari sana
dari tempat yang takkan kau jangkau

terimakasih tlah menemukan aku disini
menemani hariku dalam canda tawa
mungkin aku takkan bisa membalasnya
karena suatu hari aku takkan pernah disampingmu lagi

Senin, 01 Agustus 2011

Dan Jika Aku Ingin

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 09:51 0 komentar
aku seperti berjalan diantara keraguan

dimana kau dan aku berbeda jua
hidup tak semudah yang kau kira
wahai kasihku kini…

ku ingin terus jalani tapi tak mungkin
aku dan dia terlalu berbeda
bak langit dan bumi yang tak mungkin satu
aku ingin kau memilih satu yang pasti, kasih

aku ingin akulah yang menjadi satu di hidupmu
walau berat tak mungkin menjadi yang pasti
tapi aku ingin selalu menjadi satu milikmu
dimana dunia ini hanya milik aku dan kamu

berjalan diantara dua dunia bebeda
kamu itu pemilih yang pasti kini
aku atau dia yang kau pilih kini
yang kan menjalani jalan kini bersama

aku hanya ingin satu kepastian kini
bukan seribu mawar putih yang ternoda
ataupun berlian mahal kelas dunia
aku hanya ingin sebuah kepastian

dan jika kini Tuhan memberiku satu kepastian
aku takkan pernah menyesal karena kini
karena kini tlah sempat memilikimu
walau hanya sekejap mata

Kamis, 21 Juli 2011

Dimana Arti Sebuah Kata Cinta

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 18:05 0 komentar

Dimana arti sebuah kata cinta
Ketika kau pergi meninggalkan
Sebuah kertas usang penuh tinta
Tinta kesedihan bercampur kerinduan
Berwarna biru keabuan yang mendung

Dimana arti sebuah arti kata cinta
Ketika kau menghilang jua
Tanpa sepatah kata penghidupan
Dimana aku berdiri menunggu
Sebuah harapan yang tak pasti

Dimana arti sebuah kata cinta
Ketika aku harus menahan pedih
Yang kau goreskan kini dalam hatiku
Dengan belati menusukku dari belakang
Seakan kau tak pernah mengerti segalanya

Dimana arti sebuah kata cinta
Ketika aku berdiri tanpamu dalam kegelapan
Dan kau yang menjadi lilinku kini
Telah redup diterpa badai kencang

Dimana arti sebuah kata cinta
Ketika semua harus berakhir dalam tangisku
Ketika kau harus memilih diantaranya
Antara aku dan dia yang disana
Antara cinta dan segalanya

Ya, aku ingin kau mengerti kini
Jika aku berdiri disini hingga kematian menjemput
Aku takkan pernah menutup hati untukmu
Untuk cinta yang pernah kau semaikan
Untuk segala kenangan yang kan terkubur
Dalam debu kerinduanku padamu, kasih


Minggu, 15 Mei 2011

Bumiku

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 09:59 0 komentar
dulu kau begitu indah tuk dipandang..
bagai surga dunia yang tiada tara..
burung-burung berkicau di pepohonan
menyanyikan lagu dunia

tetapi sekarang dunia ini rusak
tak ada lagi kata surga
hanya ada kata kehancuran
dibumi ku yang tercinta

Tuhan yang welas asih
sadarkanlah umat-Mu
yang telah merusak bumiku
bumi yang sangat kucintai

sebelum mereka
kembali kepada-Mu..

Sabtu, 12 Februari 2011

Kacang Lupa Kulitnya

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 10:54 0 komentar
Awalnya semua baik-baik aja saja
Dengan aku, kau dan dia disini
Berbagi suka duka satu sama lain
Dan punya visi misi yg sama

Tapi hari itu datang
Saat kau mulai mengenal mereka
Saat kau mulai bersama mereka
Melupakan kami yg ada disini

Kau mulai lupa dgn siapa kau mulai bersama
Kau mulai lupa segala kenangan itu
Kau mulai dgn sebuah kehidupan baru
Dimana mereka yg menyetaraimu

Kami pun tahu jika kami tak setara dgnmu
Tapi kami punya perasaan
Kami ingin kami dihargai
Bukan seperti jeruk yg dimakan lalu dibuang

Kami sadar kami bukan hamba yg sempurna
Sesempurna kau dan mereka
Tapi kami disini menerimamu
Dengan segala kekurangan dan kelebihanmu

Dan beginikah caramu dgn kami ?
Setelah sekian lama kami bersamamu
Sungguh tega dirimu melakukan ini semua
Kau bagaikan kacang lupa kulitnya !

Minggu, 30 Januari 2011

Dua Dunia

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 10:56 0 komentar
Diliku jalan itu
Terlihat sang bintang
Hening tak terucap
Di langit malam

Andai ku gapai
Setitik cahayanya
Kan ku simpan
Disana, di ufuk senja

Namun sang rembulan
Menanti sang bintang
Tunjukkan sejuta indah malam
Di kahyangan kelam

Termenung..
Kini ku termenung
Dalam hening tiada angin
Mengalir bagai air
Merampung jiwa kini

Terbesit berada di kapas itu
Menyisakan bayangan hitam
Lembayung jiwa fana
Diantara dua dunia..

Ayu Vinesya Yolisa :)

Senin, 17 Januari 2011

Love Me as You Love Her

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 11:03 0 komentar
This morning makes me remember something
Something that makes me wanna forget it
A true that wakes me from dreaming
It’s a bitter true that I have

I wanna forget that and beginning the day
But I can’t do it until now, baby
‘cause I’ve a felling which is crazy
And can makes you to be fucking crazy people

But when I remember a bitter true
I wanna go away from here
But I must take it off
And give a counterfeit smile to the world

Thinking that you can forget her
And can love me as you love her
Beginning the day with me
But it’s just a fucking dream

Tonight, I’ll be a silent girl
Waiting you to be care with me
Forget her and take me out
And I hope that’s not my fucking dream
 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos