Sabtu, 08 Oktober 2011

Penantian Sang Melati, scene 4

Diposting oleh Ayu Vinesya Yolisa di 21:19
siang harinya, ketika matahari menyinari dunia dengan cahaya kebahagiaan tak membuat kebahagiaan itu didapatkan seseorang yang tengah termenung sendirian di koridor.
lambat laun ia berkhayal dalam impian kecilnya yang membuatnya sejenak melupakan kegalauannya.
saat ia sedang asyiknya berkhayal, dengan sigatnya Devin mengejutkannya.
duaarrr....
" ngelamunin apa hayo, mas ? " tanyanya jahil.
" gak ngelamunin apa-apa, dek. " jawabnya singkat sambil tersenyum pada Devin.
" ih pasti ngelamunin yang gituan kan ? astaghfirullah, insyaf mas ! " ucapnya sambil mengelus dadanya.
" eh enak aja ! dasar ceplas-ceplos ! " balasnya kaget sambil menjitak kepala Devin.
" haha, mas Rio, mas Rio hahah "
" ih kamu ini ya dek, bikin mas gemes deh ! " cubitnya kemudian.
" aw, sakit tau ! " ucapnya sambil mengelus pipinya.
" makanya jangan gitu lagi ya ? " tanyanya sambil tersenyum tulus.
sejenak Devin terdiam namun segera ia balas dengan anggukan penuh senyum yang  tulus.
" udah yok, mas anterin kamu pulang. " ajak Rio kemudian.
" hehe beneran nih mas ? " tanyanya penuh antusias.
" beneran kok adekku "
dan mereka pun pergi ke palataran parkir lalu pergi meninggalkan sekolah.

***
saat di rumah...

alunan musik terdengar menggema di dalam kamar yang berhiaskan nuansa biru itu.
sejenak, terdengar helaan nafas yang tak biasanya. seolah ingin melepaskan beban yang ada namun tak pernah tersampaikan.
ya, Devin yang saat itu takkan pernah mengaku akan satu hal yang harus ia diam-diam memendamnya dalam canda-tawa penuh kebahagiaan.
kapan ya semua ini berakhir ? aku udah capek ngadepin ini semua ! capek banget ! , pikirnya sambil memandangi langit-langit rumah.
namun seolah waktu tak mengijinkannya untuk pergi, ia pun memikirkan satu hal yang pasti terjadi.
dan kemudian buliran air mata kesedihan membasahi pipinya seolah mengatakan bahwa Tuhan itu tak adil baginya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

HALFDEVIANGEL Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos